Selasa, 17 Sep 2019 18:09 WIB

Kemenkes: Penyakit Akibat Rokok Bebani BPJS Kesehatan RP 5,9 Triliun

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Kenaikan cukai rokok diharapkan bisa mengurangi perokok (Foto: Pradita Utama) Kenaikan cukai rokok diharapkan bisa mengurangi perokok (Foto: Pradita Utama)
Jakarta - Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan dari BPJS Kesehatan, di tahun 2017 lalu jumlah kasus penyakit yang terkait dengan rokok dan tembakau baik rawat jalan atau rawat inap mencapai lebih dari 5.159.627 kasus. Sayangnya konsumsi rokok berkorelasi negatif dengan kepatuhan membayar iuran BPJS Kesehatam.

"Sampai saat ini BPJS melaporkan ada Rp 5,9 triliun yang dipakai untuk pengobatan akibat rokok. Yang paling banyak adalah PPOK dan itu tidak terbantahkan," sebut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes saat dijumpai di Gedung Kementerian Kesehatan, Jl Rasuna Said, Jakarta Selatan Selasa (17/9/2019).



Adapun lika penyakit yang membuat kematian tertinggi berasal dari rokok, termasuk di dalamnya penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dan gagal ginjal.

Konsumsi rokok menurutnya akan mengancam penyelenggaraan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) sebab dana tersedot untuk penangangan penyakit yang memperburuk defisit BPJS Kesehatan. Karenanya, Anung berharap adanya kenaikan cukai dan harga rokok eceran dapat menurunkan konsumsi rokok terutama di kalangan penduduk miskin dan anak-anak, meski tidak menjadi satu-satunya cara pengendalian konsumsi rokok.

"Tujuan kenaikan cukai adalah untuk menurunkan proporsi perokok pemula. Kami menyatakan bahwa ini adalah salah satu cara untuk mengurangi, bukan satu-satunya. Tidak single factor," sebutnya.

Soal cukai rokok untuk menambal defisit BPJS Kesehatan, Anung menyebut kebijakan tersebut sepenuhnya diatur oleh Kementerian Keuangan. Manfaat lain dari kebijakan kenaikan cukai rokok tidak bisa sepenuhnya untuk biaya pengobatan.

"Bahwa kami menerima manfaat lain, itu adalah hal yang kita akan selalu sinergi dengan satu dan lainnya," katanya.

"Kita tidak bisa mengkhususkan pendapatan cukai ditarik untuk pengobatan," ujarnya mengakhiri percakapan.



Simak Video "Benarkah Menggunakan Vape Bisa Jadi Depresi?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)