Rabu, 25 Sep 2019 15:49 WIB

Tanda-tanda Butuh Konseling Kejiwaan karena Trauma Sehabis Ikut Demo

Nabila Ulfa Jayanti - detikHealth
Bentrokan fisik bisa memicu trauma psikologis (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta - Demo mahasiswa yang digelar pada Selasa kemarin sempat ricuh. Bentrok antara mahasiswa dan polisi pun tak terbendung. Bentrok tersebut diliputi dengan aksi saling lempar massa dan polisi.

Komnas HAM sudah menerima laporan terjadinya kekerasan dalam demonstrasi kemarin. Beberapa mahasiswa korban bentrokan yang dibawa ke UGD Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) juga mengalami histeris.

"Beberapa pasien histeris ataupun karena mungkin lari larian kejar-kejaran dan ketakutan makanya pasien di sini histeris," kata Kabid Humas RSPP Agus W Susetyo, Selasa (24/9/2019).



Linda Setiawati, M. Psi., psikolog dari Personal Growth juga membenarkan bahwa demo yang tiba-tiba ricuh dapat menyebabkan dampak traumatis, baik bagi korban maupun orang yang menyaksikan. Menurutnya, gejala trauma yang muncul dapat dibagi menjadi 3 kategori sebagai berikut:

1. Kognitif: misalnya membayangkan terus-menerus bagian dari peristiwa yang terjadi.

2. Emosional/psikologis: misalnya perasaan cemas yang meningkat, perasaan sedih berlebihan setelah mendengar situasi yang terjadi, histeris.

3. Perilaku: misalnya menjadi sulit tidur, sakit kepala, jantung berdetak lebih kencang, tidak nafsu makan

Pada tahap yang lebih parah, seseorang yang terpapar dengan peristiwa traumatis bisa saja mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Ini merupakan gangguan psikologis yang muncul akibat terpapar oleh kejadian traumatis, baik yang dialami secara langsung maupun yang disaksikan.

Linda berpesan, jika kondisi trauma yang dialami membuat seseorang merasa stres dan tidak dapat mengatasinya sendiri sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari, maka perlu untuk mencari bantuan tenaga profesional seperti psikolog.



Simak Video "UNICEF: Orang Tua Juga Harus Perhatikan Kesehatan Jiwa"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)