Rabu, 02 Okt 2019 10:50 WIB

Kisah Relawan Medis Mahasiswa yang Turut Ikut dalam Aksi Demo

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Tim medis relawan mahasiswa membantu memberikan pertolongan pertama pada korban demo. (Foto: Sarah Oktaviani Alam) Tim medis relawan mahasiswa membantu memberikan pertolongan pertama pada korban demo. (Foto: Sarah Oktaviani Alam)
Jakarta - Di tengah kumpulan mahasiswa yang bersama datang untuk melakukan aksi demo di Kawasan Senayan, Jakarta, terlihat pemandangan yang berbeda. Sekumpulan orang yang terdiri dari 6 orang mahasiswa berbaju putih yang khas dan menyebut diri mereka sebagai tim medis, ikut turun ke jalan.

Mereka adalah tim Korps Sukarelawan Mahasiswa dari Palang Merah Indonesia Unit Bogor. Ini kali pertama mereka turun dan diminta ikut untuk membantu teman-teman yang mungkin cedera atau membutuhkan bantuan tim medis.

"Yang paling utama, kami membantu teman-teman dari kampus kita, sambil kami juga usahakan memberikan pertolongan pertama untuk teman-teman lainnya," ujar Sindi pada Selasa (1/10/2019).

Tugas mereka jelas, memberikan pertolongan pertama untuk membantu teman-teman mahasiswa yang cedera atau membutuhkan bantuan medis lainnya. Hal ini juga diungkapkan oleh Musrifin sebagai penanggung jawab tim medis ini.

Ia mengatakan, tim ini baru pertama kali turun karena permintaan dari teman-teman mahasiswa lainnya. Sebab pada 24 September lalu, banyak rekan mereka yang tidak mendapat pertolongan medis dengan cepat.

"Kami ikut turun ini mengacu dari aksi pada 24 September 2019 lalu, banyak teman-teman mahasiswa terutama kampus kami yang menjadi korban karena aksi ini berujung bentrok. Kami hadir di sini untuk membantu secara sukarela demi kepentingan bersama," ungkap Musrifin.


Berbagai peralatan sudah disiapkan, mulai dari obat-obatan ringan hingga bantuan oksigen. "Tergantung cederanya seperti apa, misalnya luka terbuka membutuhkan plaster, obat merah, kasa, dan lainnya. Untuk pernapasan, kami juga memiliki oksigen untuk meringankan pernapasannya," imbuhnya.

Saat ditanya untuk meredakan efek gas air mata, mereka sendiri belum pernah menanganinya. Tetapi teman-teman medis menyiapkan odol dan air garam. Saat ditanya efektivitasnya, mereka belum mengetahui apakah odol dan air garam dapat bekerja dengan maksimal atau tidak.

"Untuk mengatasi efek gas air mata, kami telah menyediakan odol dan air garam. Untuk fungsinya kami belum mengetahui secara pasti dapat bekerja secara maksimal atau tidak. Yang jelas, kami dianjurkan membawa ini berdasarkan arahan dari kakak tingkat kami yang sudah lebih berpengalaman," katanya.

Terkait air garam dan odol, pemakaiannya memang sama. Pertama orang tersebut harus membasuh muka menggunakan air bersih biasa. Kemudian, baik air garam maupun odol diaplikasikan di bawah mata secukupnya untuk mengatasi rasa perihnya.

Musrifin dan tim relawan lainnya berharap keikutsertaan mereka dapat menggerakkan rekan mahasiswa untuk ikut cepat tanggap membantu korban cedera demi kepentingan bersama.



Simak Video "Tak Ingin Jadi Bahan Hoaks, PMI Perlihatkan Isi Ambulans"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)