Senin, 07 Okt 2019 13:34 WIB

Penyebab dan Faktor Risiko Stillbirth Seperti Dialami Irish Bella

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ammar Zoni saat akan memakamkan kedua anak kembarnya. Foto: !nsertlive Ammar Zoni saat akan memakamkan kedua anak kembarnya. Foto: !nsertlive
Jakarta - Berita duka datang dari pasangan Irish Bella dan Ammar Zoni. Bayi kembarnya yang telah masuk usia kandungan 7 bulan dinyatakan meninggal dunia, atau dalam bahasa medisnya stillbirth.

Dalam kehamilan, tentu komplikasi bisa terjadi dan meningkat risikonya. Dirangkum dari Healthline, berikut adalah penyebab dan juga faktor risiko stillbirth yang perlu diwaspadai oleh para calon ibu:


1. Komplikasi hamil dan melahirkan

Beberapa kondisi bisa membuat seorang ibu hamil menjadi berisiko tinggi akan stillbirth, misalnya lahir prematur yang disebabkan komplikasi saat hamil, kehamilan lebih dari 42 minggu, hamil anak kembar, kecelakaan atau cedera selama kehamilan. Komplikasi menjadi penyebab umum stillbirth saat kelahiran terjadi sebelum minggu ke-24 kehamilan.

2. Masalah plasenta

Plasenta atau ari-ari menjadi pusat bayi mendapatkan oksigen dan nutrisi yang penting, sehingga jika ada gangguan bisa berisiko pada bayi. Masalah pada plasenta bertanggung jawab setidaknya seperempat kasus stillbirth. Misalnya saja, aliran darah yang buruk, inflamasi, dan infeksi. Kemudian kerusakan plasenta di mana plasenta ini terpisah dari dinding rahim sebelum kelahiran.

3. Kecacatan pada bayi

Setidaknya, 1 dari 10 stillbirth bisa diakibatkan oleh kecacatan pada bayi, menurut National Institute of Child Health and Human Development. Cacat bayi tersebut antara lain kondisi genetik, ketidakcocokan Rhesus, cacat struktur, keterbatasan pertumbuhan janin. Kecacatan genetik biasanya terjadi saat pembuahan. Cacat lainnya bisa terjadi akibat faktor lingkungan, namun penyebabnya tak pasti diketahui. Cacat serius atau multiple bisa membuat janin tidak akan bertahan hidup.

4. Infeksi

Adanya infeksi pada calon ibu, bayi, maupun plasenta dapat menyebabkan stillbirth. Hal ini umum terjadi sebelum minggu ke-24, seperti cytomegalovirus (CMV), fifth disease, genital herpes, listeriosis, sifilis, dan toksoplasma.


5. Masalah tali pusat

Apabila tali pusat menjadi terjepit atau kusut bisa menyebabkan bayi tak dapat oksigen yang cukup. Masalah tali pusat sebagai penyebab stillbirth biasanya sering terjadi di minggu-minggu akhir kehamilan.

6. Masalah kesehatan calon ibu

Jika sang ibu memiliki masalah kesehatan, umumnya dua penyakit yang sering muncul di trimester kedua dan di awal trimester akhir adalah preeklampsia dan tekanan darah tinggi kronis. Selain itu, apabila sang ibu memiliki riwayat diabetes, lupus, obesitas, thrombophilia atau gangguan tiroid juga bisa menyebabkan stillbirth.

7. Faktor risiko

Stillbirth bisa terjadi pada siapapun, namun ada beberapa faktor risiko yang membuatnya meningkat seperti:

- memiliki masalah kesehatan, misalnya hipertensi atau diabetes
- obesitas
- masih remaja atau di atas 35 tahun
- mengalami trauma atau stres tinggi setahun sebelum kelahiran
- jarang mendapatkan periksaan rutin
- merokok, menggunakan ganja, obat anti nyeri atau NAPZA saat kehamilan



Simak Video "Lelah Dengan Tekanan Sosial? Jangan Malu Curhat ke Psikolog"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)