Senin, 07 Okt 2019 14:29 WIB

Obat Maag Ranitidin: Aturan Pakai dan Efek Sampingnya

Firdaus Anwar - detikHealth
Obat maag ranitidin bekerja dengan cara menekan produksi asam lambung. (Foto: istock) Obat maag ranitidin bekerja dengan cara menekan produksi asam lambung. (Foto: istock)
Jakarta - Obat maag ranitidin biasa dipakai untuk mengatasi masalah asam lambung. Obat dijual dengan harga terjangkau biasanya sampai dosis 150 mg dalam bentuk tablet, pil, sirup hingga injeksi.

Dikutip dari Pusat Informasi Obat Nasional (PIO NAS), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), obat maag ranitidin bisa diberikan pada anak-anak hingga orang dewasa. Obat disebut dapat membantu kondisi seperti tukak lambung, refluks esofagitis, dispepsia kronis, dan tukak duodenum.

Obat bekerja sebagai antagonis reseptor H2 sama seperti famotidine, simetidine, dan nizatidine. H2 adalah senyawa histamin 2 yang berperan merangsang dan melepaskan zat asam pada lambung.

Selama menggunakan obat maag ranitidin disarankan agar menjauhi makanan tertentu yang dapat memperparah gejala penyakit seperti makanan pedas, asam, dan terlalu panas. Hindari juga kebiasaan merokok karena salah satu efeknya dapat memicu radang lambung.



Aturan Pakai:

1. Tukak lambung pada dewasa

Obat maag ranitidin bisa diberikan secara oral untuk mengatasi masalah tukak peptik dan duodenum ringan. Berikan obat ranitidine 150 mg 2 kali sehari atau 300 mg sekali pada malam hari selama 4-8 minggu.

2. Tukak lambung pada anak

Pada anak-anak obat maag ranitidin bisa diberikan dengan catatan disesuaikan dengan berat badannya. "2-4 mg/kg bb 2 kali sehari, maksimal 300 mg sehari" tulis PIO NAS BPOM.

3. GERD

Untuk mengatasi masalah Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), obat maag ranitidin diberikan dengan dosis 150 mg dua kali sehari atau 300 mg sebelum tidur malam selama 8 minggu. Bila masalahnya berat obat maag ranitidin 150 mg bisa diberikan sampai 4 dosis dalam sehari selama 12 minggu.

4. Pemberian via infus intravena atau injeksi

Obat maag ranitidin biasanya diberikan dalam bentuk infus atau injeksi di fasilitas kesehatan untuk pasien yang tidak mampu atau kesulitan menelan. Dalam bentuk injeksi obat maag ranitidin bisa diberikan dengan dosis 50 mg setiap 6-8 jam sementara obat maag ranitidin infus intravena diberikan dengan dosis 25mg/jam yang dapat diulang setiap 6-8 jam.

Efek samping:

Konsumsi obat maag ranitidin dilaporkan bisa menimbulkan beberapa efek samping. Di antaranya seperti meningkatkan detak jantung (takikardi), agitasi, gangguan penglihatan, kerontokan rambut (alopesia), dan penyakit ginjal nefritis interstisial.

Untuk kasus takikardi dan nefritis interstisial PIO NAS BPOM menekankan keduanya adalah efek samping yang langka.

Kasus terkini:

Terkait penggunaan obat maag ranitidin, belakangan ini BPOM mengeluarkan rilis penarikan produk karena khawatir tercemar N-Nitrosodimethylamine (NDMA) yang berpotensi memicu kanker. Studi global memutuskan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake).

Sebanyak 1 produk sudah diperintahkan untuk ditarik dan 4 produk lainnya dengan sukarela ditarik oleh produsen.

Produk yang diperintahkan untuk ditarik yaitu Ranitidine berbentuk cairan injeksi 25 mg/mL keluaran PT Phapros tbk. Sedangkan, yang sukarela ditarik produsen yaitu Zantac cairan injeksi 25 mg/mL keluaran PT Glaxo Wellcome Indonesia, Rinadin sirup 75 mg/5mL keluaran PT Global Multi Pharmalab, Indoran cairan injeksi 25 mg/mL keluaran PT Indofarma, dan Ranitidine cairan injeksi 25 mg/mL keluaran PT Indofarma.

"Berdasarkan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan, Badan POM memerintahkan kepada Industri Farmasi pemegang izin edar produk tersebut untuk melakukan penghentian produksi dan distribusi serta melakukan penarikan kembali (recall) seluruh bets produk dari peredaran (terlampir)," tulis BPOM dalam penjelasannya tertanggal 4 Oktober 2019.

Lalu bagaimana jika Anda sudah terlanjur merasa cocok dengan produk obat maag ranitidin yang sudah ditarik oleh BPOM?

Ahli pencernaan yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Ari Fahrial Syam menyarankan pengguna untuk berkonsultasi ke dokter guna mencari obat pengganti.

"Saya menyarankan untuk pengguna ranitidin berkonsultasi ke dokter untuk mencari pengganti. Karena obat pengganti ranitidin sebagai obat penekan produksi asam lambung masih banyak misal obat penghambat pompa proton seperti omeprazole dan lain-lain," jelas dr Ari saat dihubungi detikcom, Senin (7/10/2019).



Simak Video "Obat Maag Ranitidin Ditarik, BPOM Umumkan Daftar Obat Pengganti"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)