Selasa, 08 Okt 2019 13:50 WIB

BPOM Beri Waktu 80 Hari Kerja untuk Penarikan Obat Maag Ranitidin Tercemar

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi obat maag ranitidin. Foto: ilustrasi/Mindra P Ilustrasi obat maag ranitidin. Foto: ilustrasi/Mindra P
Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat edaran pada 4 Oktober 2019 yang berisi memerintahkan penarikan obat asam lambung mengandung ranitidin. Sebanyak lima obat maag ranitidin terbukti positif tercemar N-Nitrosodimethylamine (NDMA) terkait risiko kanker.

Dengan demikian, BPOM memberikan waktu 80 hari kerja kepada seluruh industri farmasi terkait untuk melakukan penarikan obat tersebut dari peredaran.

"Kita berikan waktu 80 hari kerja sejak dikeluarkan surat edaran tanggal 4 Oktober untuk proses penarikan di lapangan sampai sarana pelayanan, seperti apotek," kata Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (ONPPZA) BPOM, drs Rita Endang, Apt, M Kes kepada detikcom, Senin (7/10/2019).



Lima obat maag ranitidin yang ditarik adalah Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL dair PT Phapros Tbk, Zantac Cairan Injeksi 25 mg/mL dari PT Glaxo Wellcome Indonesia, Rinadin Sirup 75 mg/5mL, Indoran Cairan Injeksi 25 mh/mL dan Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL dari PT Indofarma.

Hingga kini, BPOM masih akan terus melakukan pengujian terhadap obat maag ranitidin lainnya yang juga berpotensi mengandung cemaran NDMA. Rita harap masyarakat tidak khawatir dengan adanya masalah ini.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Etra Ariadno SpPD dari RSAL Dr Mintohardjo mengatakan ada obat maag alternatif selain ranitidin yang bisa dikonsumsi masyarakat.

"Untuk amannya para dokter meresepkan obat non ranitidin untuk kasus lambung, seperti golongan PPI yaitu omeprazole, lansprazole, dll," tutur dr Etra.



Simak Video "Obat Maag Ranitidin Ditarik, BPOM Umumkan Daftar Obat Pengganti"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)