Selasa, 08 Okt 2019 15:49 WIB

Obat Maag Ranitidin Ditarik BPOM, Pilih Terus Minum Atau Move On?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Pasien yang telanjut merasa cocok dengan ranitidin mengaku kecewa dengan penarikan oleh BPOM (Foto: iStock) Pasien yang telanjut merasa cocok dengan ranitidin mengaku kecewa dengan penarikan oleh BPOM (Foto: iStock)
Jakarta - Penyakit asam lambung berlebih adalah permasalahan umum yang banyak dialami masyarakat Indonesia. Obat maag ranitidin menjadi salah satu yang diandalkan. Tetapi, BPOM melakukan penarikan terhadap obat tersebut karena tercemar zat karsinogenik.

Viera (27), seorang pengidap maag di Jakarta, merasa sedih setelah mengetahui hal tersebut. Ia mengaku telah mengonsumsi obat maag ranitidin selama kurang lebih lima tahun. Ia juga merasa bahwa obat tersebut ampuh untuk menurunkan asam lambungnya yang berlebih.

Lantas, apakah Viena akan terus mengonsumsi ranitidin atau sebaliknya move on pada obat maag lain?

"Nurut sama dokter aja, kan obatnya banyak hehe. Ga mau (raniditin) kan udah ditarik," ujarnya kepada detikcom, Selasa (8/10/2019).



Hal yang sama juga tampaknya akan dilakukan oleh Dilah (24). Meskipun telah mengonsumsi obat maag ranitidin selama lebih dari tujuh tahun, ia tidak ingin mengonsumsinya lagi setelah mengetahui bahwa beberapa obat tersebut ditarik oleh BPOM karena tercemar N-Nitrosodimethylamine (NDMA) terkait risiko kanker.

"Nggak mau (ranitidin). Mau omeprazole aja," tegasnya.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Etra Ariadno SpPD dari RSAL Dr Mintohardjo mengatakan ada obat maag alternatif selain ranitidin yang bisa dikonsumsi masyarakat untuk mengatasi produksi asam lambung berlebih.

"Untuk amannya para dokter meresepkan obat non ranitidin untuk kasus lambung, seperti golongan PPI (proton pump inhibitor atau penghambat pompa proton) yaitu omeprazole, lansprazole, dll," pungkas dr Etra.



Simak Video "Kenali Gejala Depresi yang Dialami Sulli dan Taeyeon SNSD"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)