Selasa, 08 Okt 2019 17:05 WIB

Kontroversi Manfaat Ganja Medis Vs Efek Sampingnya

Firdaus Anwar - detikHealth
Thailand jadi negara pertama di Asia Tenggara yang legalkan ganja untuk medis dan iptek. (Foto: Lauren DeCicca/Getty Images) Thailand jadi negara pertama di Asia Tenggara yang legalkan ganja untuk medis dan iptek. (Foto: Lauren DeCicca/Getty Images)
Jakarta - Manfaat ganja sebagai tumbuhan medis mulai diterima luas. Malaysia contohnya berniat melegalisasi ganja sehingga warga bisa bebas menanamnya, tentu dengan berbagai persyaratan dan izin khusus yang harus dipenuhi.

Namun demikian perdebatan tentang manfaat dan bahaya efek samping ganja ini masih sengit. Berbagai studi oleh ilmuwan menunjukkan hasil saling bertentangan.

Dari segi manfaat, berikut beberapa contoh penyakit yang disebut bisa berdampak positif dengan obat ganja:


1. Kanker

Menurut National Institutes of Health (NIH), Amerika Serikat, ilmuwan tengah meneliti manfaat ganja medis untuk melawan sel kanker.

"Penelitian pada hewan baru-baru ini menunjukkan bahwa ekstrak ganja dapat membantu membunuh sel kanker tertentu dan mengurangi ukuran sel lainnya. Bukti dari satu penelitian kultur sel tikus menunjukkan ekstrak ganja murni dari satu tanaman utuh dapat memperlambat pertumbuhan sel kanker salah satu jenis tumor otak yang paling serius," tulis NIH.

2. Multiple sclerosis

NIH juga melaporkan kalau ganja diteliti untuk mengobati penyakit autoimun seperti multiple sclerosis (MS). Beberapa ahli menyebut bahwa ganja kemungkinan besar dapat meringankan gejala kekakuan dan kejang yang umum pada MS.

3. Penyakit jiwa

Senyawa tetrahidrokanabinol (THC) dalam daun ganja diketahui memiliki efek psikoaktif atau dapat mempengaruhi saraf otak dan kondisi kejiwaan. Beberapa peneliti memanfaatkannya untuk mengobati penyakit jiwa seperti skizofrenia dan gangguan stres pasca trauma (PTSD).

4. Epilepsi

Salah satu manfaat ganja medis yang terkenal adalah bagaimana ia bisa dimanfaatkan untuk mengobati kejang-kejang karena epilepsi. Di media ada beberapa cerita orang tua sengaja memberikan anaknya minyak ganja untuk mengurangi serangan kejang.

5. Nyeri kronis

Menurut ahli farmasi Laura Borgelt dari University of Colorado senyawa kimia yang ada di ganja dapat mempengaruhi proses rasa nyeri dan inflamasi di dalam tubuh. Oleh karena itu beberapa orang menggunakan ganja medis untuk meringankan rasa sakit.

6. Glaukoma

Keyakinan bahwa ganja bisa mengobati glaukoma dimulai pada tahun 1970-an, ketika studi menunjukkan bahwa ganja bisa menurunkan tekanan pada mata yang dapat menyebabkan hilangnya penglihatan.

Namun, penelitian lebih lanjut menemukan bahwa ganja hanya mempertahankan hasil ini selama beberapa jam, sehingga penderita harus menggunakan obat ini hingga delapan kali sehari agar bermanfaat.

Dampak Negatif

Tak kalah dengan studi yang melihat manfaat ganja, beberapa peneliti juga melihat efek sampingnya. Hal ini yang kemudian memicu perdebatan apakah ganja cukup aman untuk bisa dipakai secara umum.

Dikutip detikcom dari berbagai sumber, berikut beberapa efek negatif ganja yang diketahui:

1. Gejala psikosis

Beberapa studi menghubungkan penggunaan ganja dengan peningkatan kejadian psikosis, istilah medis untuk kumpulan gejala hilangnya persepsi dengan dunia nyata. Contoh dari hal ini seperti halusinasi atau paranoia.

Dalam sebuah analisis yang dipublikasi di jurnal Schizophrenia Bulletin, peneliti melihat 67 ribu orang dan menemukan mereka yang rutin menggunakan ganja lebih mungkin untuk didiagnosa dengan kondisi kesehatan mental. Satu kondisi yang disebut adalah schizophrenia.

"Secara garis besar, bukti dari studi-studi epidemiologi memberikan bukti kuat yang memperingatkan sebagai pesan kesehatan publik bahwa ganja bisa meningkatkan risiko untuk gangguan psikotik," tulis laporan peneliti dalam jurnal Biological Psychiatry tahun 2016.

2. Pengaruhi IQ

Studi terbaru yang diterbitkan di Jurnal JAMA Internal Medicine mengatakan kebiasaan mengisap ganja saat remaja membuat otak melemah di hari tua. Akibatnya, kemampuan mengingat dan kecepatan berpikir otak semakin menurun.

"Studi dilakukan kepada semua kalangan, pria dan wanita, kulit hitam dan putih, pendidikan tinggi dan rendah. Hasilnya sama, penggunaan ganja saat remaja akan berdampak pada otak di kalau tua," tutur Dr Reto Auer yang melakukan penelitian, dikutip dari CNN.

Studi lain di Selandia Baru menunjukkan hal yang sama. Mereka yang menggunakan ganja mengalami penurunan IQ (Intelligence quotient) secara signifikan. Bahkan penggunaan ganja juga berpengaruh terhadap prestasi sekolah.

Hasil studi menemukan mereka yang menggunakan ganja sebelum berumur 17 tahun memiliki risiko 60 persen tidak menyelesaikan pendidikan. Selain itu, mereka juga 7 kali lebih berisiko melakukan bunuh diri dan 8 kali lebih berisiko menggunakan obat terlarang lain di kemudian hari.

3. Perubahan volume otak

Menggunakan ganja dalam jangka panjang kemungkinan dapat mengubah volume otak seperti disebut dalam studi tahun 2014 di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Setidaknya pada 48 orang dewasa yang menggunakan ganja tiga kali dalam sehari selama sembilan tahun, otak mereka punya volume massa abu-abu (gray matter) yang lebih sedikit.

4. Picu perubahan genetik

Penelitian yang terbit dalam jurnal Epigenestic menemukan pria yang merokok dengan ganja akan memiliki perubahan genetik pada sperma dan terkait dengan keabnormalan serta memicu kanker. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan merokok ganja akan menurunkan jumlah sperma ketika ejakulasi.

Para peneliti sangat mengkhawatirkan tentang perubahan genetik sperma dari perokok. Sebab, perubahan ini menentukan nasib embrio yang dibuahi oleh sperma.

"Kami belum bisa memastikan, tetapi fakta bahwa semakin banyak pria subur yang merokok dengan ganja adalah sesuatu yang harus dipikirkan," kata Scott Kollins, peneliti yang juga profesor dari Duke University dikutip dari Health.



Simak Video "Buka Lowongan! Penguji Ganja Profesional Dibayar Rp 500 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)