Sabtu, 12 Okt 2019 09:03 WIB

Sama-sama Dipidana karena Ganja, Ini Beda Kasus di Malaysia Vs Indonesia

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Budidaya ganja untuk kesehatan di kolombia. (Foto: Reuters) Budidaya ganja untuk kesehatan di kolombia. (Foto: Reuters)
Jakarta - Tanaman ganja atau Cannabis sativa mulai dipertimbangkan penggunaannya untuk medis di negara tetangga, Malaysia. Rencana ini mencuat setelah Direktur Jenderal Badan Anti Narkoba Nasional Malaysia, Datuk Seri Zulkifli Abdullah, melihat adanya keberhasilan orang Malaysia yang memproduksi minyak ganja untuk keperluan medis di luar negeri.

Terlebih adanya desakan dari masyarakat Malaysia setelah kasus Muhammad Lukman Bin Mohamad, seorang dokter, yang dipidana setelah ketahuan menanam ganja yang ia gunakan untuk mengobati lebih dari 800 orang. Kasus yang hampir serupa juga pernah menimpa Fidelis Ari Sudarwoto, seorang pria di Kalimantan Barat, yang dipidana juga karena menanam ganja untuk mengobati istrinya.

Melihat hal tersebut, Direktur Yayasan Sativa Nusantara, Inang Winarso, menyebut undang-undang yang mengatur tentang narkotika harus diubah dengan dasar kajian, terutama yang berbentuk tanaman. Terlebih, menurutnya, sudah banyak kajian ilmiah di luar negeri yang memperlihatkan manfaat ganja untuk pengobatan.

"Tadi tanaman yang disebut dalam golongan I itu harus dilihat secara manfaat dulu. Kalau memang ada manfaatnya dan terbatas untuk pengobatan, ya itu yang diperbolehkan," katanya saat ditemui detikcom di daerah Jakarta Selatan, Rabu (9/10/2019).

Di Indonesia, ganja merupakan jenis narkotika golongan I yang diatur dalam Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Mereka yang melakukan perbuatan menanam, memiliki, menyimpan, dan menggunakan ganja terancam bui maksimal seumur hidup dan hukuman terberat bagi terpidana adalah hukuman mati.


Kalau Fidelis itu seorang peneliti, akan lain ceritanya. Jadi misal kalau dia peneliti dan dia mencoba menerapkannya ke istrinya dengan dasar riset yang ia lakukan, mungkin akan berbeda. Bisa jadi akan sama dengan yang Malaysia itu Inang Winarso - Yayasan Sativa Nusantara
Sebenarnya dalam Pasal 7 UU 35 tahun 2009, penggunaan narkotika diperbolehkan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun pada tahun 2017 lalu, pria asal Kalbar, Fidelis Ari Sudarwoto, dipidana setelah ketahuan menanam ganja yang ia lakukan untuk pengobatan sang istri.

Menurut Inang, yang dilakukan Fidelis memang hanya sebatas mengandalkan ilmu pengetahuan umum dan informasi yang ia dapatkan dari internet atas dasar desakan istrinya yang kala itu sedang sakit.

"Jadi hanya didorong niat baik dan keprihatinan pada istrinya. Kalau Fidelis itu seorang peneliti, akan lain ceritanya. Jadi misal kalau dia peneliti dan dia mencoba menerapkannya ke istrinya dengan dasar riset yang ia lakukan, mungkin akan berbeda. Bisa jadi akan sama dengan yang Malaysia itu," sebutnya.

Untuk itu Inang berharap undang-undang yang mengatur tentang narkotika khususnya Golongan I untuk di review kembali. Di revisi berdasarkan pemanfaatan ganja untuk medis dan bahan baku obat-obatan.

"UU-nya sudah 10 tahun, sudah saatnya di review kembali. Mana yang kira-kira membatasi akses untuk pengobatan, itu jangan dilarang karena kita membutuhkan betul bahan baku obat yang dari alam," pungkasnya.

Sama-sama Dipidana karena Ganja, Ini Beda Kasus di Malaysia Vs IndonesiaFoto: infografis detikHealth




Simak Video "Buka Lowongan! Penguji Ganja Profesional Dibayar Rp 500 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)