Minggu, 13 Okt 2019 05:10 WIB

5 Mitos Seks yang Masih Populer, Ukuran Mr P hingga Coitus Interruptus

Rosmha Widiyani - detikHealth
Beragam mitos tentang seks masih banyak dipercaya (Foto: iStock) Beragam mitos tentang seks masih banyak dipercaya (Foto: iStock)
Jakarta - Berbagai informasi seputar seks sebetulnya mudah diperoleh, sayangnya masih saja ada yang percaya pada mitos. Beberapa mitos malah sudah lama beredar dan terus diyakini alias klasik.

Dikutip dari AskMen berikut 5 mitos klasik soal bercinta yang masih terus dipercaya, mulai dari ukuran Mr P hingga penetrasi.



1. Makin besar ukuran Mr P makin baik

Mitos makin besar ukuran Mr P makin baik telah mengacaukan rasa percaya diri dan self-esteem pria. Para pria tak segan melakukan berbagai upaya demi memperbesar Mr P dan memberi kepuasan pada pasangan.

"Setiap ukuran Mr P pasti ada pro dan kontra, karena vagina punya pilihan sendiri soal ukuran. Karena itu cintailah penismu beserta untung rugi yang terjadi. Harus diingat 70 persen ukuran penis di dunia adalah 11-16 sentimeter tanpa sunat dan 10-13 sentimeter dengan sunat," kata konsultan seputar seks Kenneth Play.

2. Foreplay tidak penting

Penetrasi dan orgasme memang menjadi puncak kepuasaan saat bercinta. Sayangnya, penetrasi menjadi fokus utama hingga melupakan foreplay. Padahal bagian permulaan ini menjadi saat yang tepat untuk membangun gairah dan mood.

"Pria tidak akan bisa penetrasi jika Mr P tidak ereksi, sama dengan wanita yang tubuhnya harus siap sebelum dipenetrasi. Para pria harus ingat, wanita benci premature penetration karena itu jangan pernah melupakan foreplay di setiap sesi bercinta," ujar Play.

3. Hanya penetrasi yang bisa memberi orgasme

Dalam setiap materi porno, wanita biasanya diceritakan hanya merasakan orgasme melalui penetrasi. Faktanya, orgasme bisa dirasakan wanita dengan merangsang bagian lain misal clitoris.

"Clitoris ini seperti sahabat terbaik wanita saat berhubungan seks. Sayangnya clitoris tidak mendapat cukup perhatian saat berhubungan seks. Padahal menyentuh clitoris sesuai pilihan wanita menjadi metode efektif meraih orgasme," kata sex expert Jess O'Reilly.



4. Coitus interrupus adalah metode kontrasepsi efektif

Teknologi kontrasepsi telah banyak berkembang dan memberi banyak pilihan. Namun metode coitus interruptus atau senggama terputus atau masih punya peminat, yang meyakini cara tersebut bisa membantu mengendalikan kehamilan. Sesaat menjelang ejakulasi, Mr P dijauhkan dari Ms V dengan maksud agar tidak terjadi pembuahan.

"Namun patut diingat, selalu ada risiko sperma sudah terlanjur keluar dan masuk vagina. Dengan risiko ini, kontrasepsi menjadi pilihan terbaik misal kondom, yang sekaligus mencegah infeksi penyakit menular seksual," kata konsultan seputar seks Mackenzie Riel.

5. Seks yang baik harus tahan lama

Selain ukuran, mitos ini mungkin menjadi yang paling klasik dan banyak dipercaya. Kepuasan seks bergantung kecenderungan tiap pasangan, yang kadang memilih seks dalam waktu singkat.

"Penetrasi biasanya berlangsung 2-7 menit sedangkan hubungan seks secara keseluruhan rata-rata kurang dari 25 menit. Dengan durasi ini lebih baik jika dibagi antara foreplay dan penetrasi, sehingga pasangan bisa sama-sama puas," kata O'Reilly.



Simak Video "Waspada! Ini Mitos Paru-paru Basah"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)