Minggu, 13 Okt 2019 16:50 WIB

Keragaman di Indonesia Bisa Jadi Tolok Ukur Kesehatan Hubungan Masyarakat

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Simposium: Diversity & Healthy Relationship Foto: dok. Simposium: Diversity & Healthy Relationship Foto: dok.
Jakarta - Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat beragam di dunia. Dalam Simposium: Diversity & Healthy Relationship, apa saja keragaman Indonesia dan bagaimana keragaman tersebut bisa membentuk Indonesia menjadi satu bangsa yang menghargai keragamannya dan menggunakan keragaman tersebut untuk kebaikannya dan dunia diusung menjadi tema.

Simposium yang dilaksanakan oleh jurnal Makara Human Behavior Studies in Asia tanggal 10-12 Oktober 2019 dihadiri oleh banyak 7 institusi di Indonesia dengan 8 pembicara berkualitas dari dalam dan luar negeri. Makara Hubs-Asia (begitu jurnal ini biasa disingkat) mengambil topik yang sangat penting, yang menjadi pondasi bagi pembentukan bangsa Indonesia yang sejahtera dan maju, yaitu topik keragaman atau kebhinnekaan (diversity).

Salah satunya Prof. Buxin Han, dari Chinese Academy of Science, sebagai pembicara pertama menjelaskan tentang Psikologi Agama, dan mendeskripsikan banyaknya agama di Cina. Kemudian Manneke Budiman PhD, Wakil Dekan FIB (Fakultas Ilmu Budaya) UI menjelaskan keragaman Bahasa: bahwa ada bahasa yang dominan, ada bahasa yang mati, dan ada bahasa yang mulai dipakai.

Dr Mirra Noor Milla, dari laboratorium psikologi politik Universitas Indonesia (UI) membahas adanya keragaman ideologi dan bagaimana orang dengan keragaman ideologi dapat menerima demokrasi. Dr. Evi Nurvidya Arifin, dari IPADI (Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia) menjelaskan bahwa dari penelitian IPADI ada lebih dari 1.300 etnik di Indonesia, jumlah yang luar biasa yang tidak terbayang oleh satu orang peserta pun. Agama, bahasa, ideologi dan etnik adalah berbagai keragaman yang membentuk perilaku manusia dan membangun bangsa Indonesia.

"Keragaman ini bukan hanya menjadi ciri Indonesia sebagai bangsa, tetapi dapat menjadi identitas seseorang," demikian Turro S. Wongkaren Ph.D, kepala Lembaga Demografi UI, menjelaskan, dalam rilis yang diterima detikcom, Minggu (13/10/2019).

Ia melanjutkan, setiap orang bisa mempunyai lebih dari satu identitas: sebagai Muslim, Cina, dan wartawan, misalnya. Atau, beridentitas sebagai Kristen, Jawa, dan bertangan kidal, misalnya. Identitas mencerminkan kelompok sosial tempat seseorang berada, misalnya kelompok etnik (Jawa, Sunda, dst), kelompok agama, kelompok pekerjaan, kelompok ciri khusus seseorang (kidal, botak, dst).

"Jadi, setiap orang akan mempunyai lebih dari satu identitas (multiple identities), tetapi tidak setiap identitas akan sama kuatnya dalam mempengaruhi perilaku seseorang. Salah satu poin penting yang perlu dikembangkan adalah bagaimana tiap orang menerima keragaman identitasnya dan tidak merasa perlu menegasikan identitas yang lain. Artinya, pengelolaan keragaman yang baik akan menghasilkan keragaman yang tidak berkonflik satu dengan yang lain," lanjutnya.

Salah satu pembicara, Sri Mulyani Indrawati Ph.D., Menteri Keuangan RI, ikut berbagi pengalamannya mengelola keragaman di organisasi yang dipimpinnya. Sri Mulyani mulai dengan menyebutkan salah satu misi dari Kementerian Keuangan, yaitu menjadi organisasi yang inklusif. Misi ini perlu dijalankan dengan tekun oleh seluruh pimpinan dan karyawan kementerian keuangan.



Berbagai langkah sistemik perlu dilakukan agar organisasi bisa menjalankan misinya, misalnya sistem seleksi (yang adil terhadap semua keragaman, dan transparan), pelatihan (untuk membuat orang bisa mengerti dan berempati terhadap orang yang berbeda dengannya), town-hall meeting untuk membahas aspek ini secara terbuka, bahkan live-in, yaitu seorang anak dengan agama tertentu dari satu karyawan, hidup seminggu di rumah karyawan lain yang lain agamanya.

"Live-in ini ternyata sangat berhasil membuat orang saling merasakan empati dan hubungan personal dengan orang lain yang berbeda keyakinan," jelasnya.

Chief Editor Makara Hubs-Asia,Corina D. Riantoputra Ph.D. merumuskan langkah Sri Mulayani Ph.D dengan menggunakan teori organisasi, yaitu bahwa:

1. Kejelasan misi ini adalah identitas organisasi; Identitas diri karyawan perlu tetap dihargai, tetapi perumusan identitas organisasi adalah kunci perubahan ke arah yang lebih baik.

2. Pemimpin yang baik, akan dapat mengupayakan agar identitas organisasi menjadi nyata dan teraktualkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak semua pemimpin bisa melakukannya. Yang berhasil adalah pemimpin yang punya visi ke depan, dan berani melangkah secara konsisten dan komprehensif;

3. Demi keberhasilannya, diperlukan trust/kepercayaan dari seluruh komponen organisasi, karenanya komunikasi yang terbuka dan sistem yang transparan menjadi kunci.

Menurutnya, ketiga hal ini teraktualkan oleh Sri Mulyani, yang melihat bahwa kementerian keuangan yang dipimpinnya (yang terdiri dari 84000 karyawan) adalah the glue of Indonesian society.

Keragaman di Indonesia akan semakin dihargai dan akan mendatangkan dampak positif yang mensejahterakan bangsa jika setiap organisasi di Indonesia sadar akan pentingnya organisasi mengelola keragamannya. Tidak heran, topik keragaman di masyarakat dan keragaman di organisasi dijadikan satu topik di simposium Makara Human Behavior Studies in Asia, salah satu flagship journal dari Universitas Indonesia.

Jurnal ini adalah jurnal yang selain telah terakreditasi Sinta 2, juga telah terindeks di Web of Science: ESCI (Emerging Science Citation Index), dan ACI (Asian Citation Index), dan DOAJ green tick. Dengan kata lain, menurut definisi Dikti, jurnal ini telah memenuhi kriteria sebagai jurnal nasional bereputasi dan jurnal internasional.


Keragaman di Indonesia Bisa Jadi Tolok Ukur Kesehatan Hubungan Masyarakat


Simak Video "Apa Sih Quarter Life Crisis?"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)