Warga di Desa Bongkasa Pertiwi, Kabupaten Badung, Bali, memanfaatkan kotoran hewan untuk bahan bakar gas yang mereka gunakan untuk kegiatan sehari-hari. Meski semua kotoran hewan bisa dipergunakan, mayoritas yang dipakai adalah kotoran babi yang banyak di ternak oleh warga.
Kotoran hewan ternak di wilayah ini beberapa kali menyebabkan masalah karena mencemari air tanah dan menghambat aliran air. Penumpukan kotoran hewan yang tidak dikelola dengan baik tentu tak hanya mencemari lingkungan tapi akan berdampak pada kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengolahan biogas dari kotoran babi. Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth |
Setiap hari, ada sekitar 20 kg kotoran ternak yang diolah untuk biogas dan bisa menghasilkan nyala api selama 4 hari jika dipakai nonstop seharian. Kualitas biogas yang dihasilkan juga tergantung dari makanan yang dikonsumsi ternak.
"Proses pengolahan biasanya 2-4 jam agar kotoran bisa menjadi biogas. Hasil dari kotoran babi bukan hanya jadi biogas tetapi juga pupuk cair dan pupuk padat," tambahnya.
Hasilnya, biogas bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak. Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth |
Pengakuan warga, pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas sangat menghemat biaya pengeluaran mereka sebab tak lagi mengandalkan gas LPG. Memang masih ada kompor gas biasa tapi hanya digunakan untuk memasak saat hari raya besar keagamaan.
"Dulu seminggu sekali beli tabung gas harganya Rp 27 ribu. setelah biogas baru satu kali di 6 bulan belinya. Bisa menghemat Rp 120 ribu sebulannya," sebutnya.
(kna/up)












































Pengolahan biogas dari kotoran babi. Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth
Hasilnya, biogas bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak. Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth