Jakarta -
Saat kamu terbangun biasanya ada beberapa sensasi yang terasa di tubuh, salah satunya bisa jadi bagian vagina yang gatal. Mungkin terasa biasa saja, namun seharusnya kamu tidak boleh mengabaikan hal ini.
Vagina, tepatnya berada di depan lubang liang vagina kita merupakan area lembab yang bisa menjadi sarang kuman dan bakteri. Gatal di vagina bisa menjadi tanda beberapa penyakit yang mungkin serius.
Dirangkum dari metro.uk, berikut adalah beberapa alasan vagina terasa gatal dan juga cara mengatasinya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bacterial vaginosis
Foto: iStock
|
Bacterial vagonisis merupakan kondisi paling umum terjadi dan gejalanya selalu ditandai dengan gatal di lubang liang vagina. Penyakit ini disebabkan adanya ketidak seimbangan bakteri sehat dan perubahan pH yang terjadi di dalam liang vagina.Penyakit ini umum terjadi saat sedang menstruasi, atau saat mencuci vagina, meminum antibiotik, dan alergi pada cairan semen apabila sudah menikah. Bacterial vaginosis juga biasanya diikuti dengan gejala adanya cairan yang keluar berbau amis, terutama setelah berhubungan seksual, atau tipis dan berair. Penyakit ini umumnya bisa ditangani dengan obat-obatan dan hindari penggunaan celana jeans yang terlalu ketat, sekaligus atur pola makan.
Yeast infection atau Trush
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Infeksi jamur atau yeast infection juga merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi yang menyebabkan rasa gatal pada liang vaginamu. Sama seperti bacterial vaginosis, thrush biasanya disertai dengan cairan yang berwarna putih, kental, disertai rasa gatal di area vagina, nyeri saat berhubungan seksual atau kencing.Pengobatan bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat, dan bagi yang sudah menikah, umumnya obat diberikan dalam bentuk obat yang dimasukkkan ke dalam vagina. Pada umumnya, dalam seminggu infeksi ini bisa sembuh, jika tidak maka perlu diperiksakan ke dokter.
Untuk mencegah infeksi ini kembali terjadi, hindari produk dengan pewangi atau sabun untuk membersihkannya, keringkan area vagina usai membasuhnya, dan hindari mengenakan pakaian kain sintetis ketat. Infeksi ini juga biasa terjadi pada pengidap diabetes, peminum antibiotik dan yang memiliki sistem imun lemah.
Alergi cairan semen
Foto: iStock
|
Jika kamu adalah wanita yang sudah menikah dan merasakan bagian vagina batal dan terasa seperti terbakar usai seks, bisa jadi kamu mengalami alergi cairan semen atau sperma. Kamu bisa mencobanya dengan mengenakan kondom saat berhubungan seksual bersama suami dan jika memang kamu mengalami alergi ini, maka gejala gatal akan hilang.Jika tetap ada, segera periksakan ke dokter karena bisa saja kamu mengalami alergi atau sensitif pada lateks. Bukan berarti kamu harus menghindari kondom, namun pilihlah kondom yang tidak berbahan lateks.
Trichomoniasis
Foto: iStock
|
Trichomoniasis merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit mungil dan kecil, yakni trichomonas vaginales. Beberapa yang mengidapnya tidak mengalami gejala apapun, sehingga penting untuk rutin mengecek, apalagi jika kamu mengalami salah satu gejalanya yakni gatal di liang vagina.Gejala lainnya adalah cairan yang keluar bisa berbusa, berwarna hijau kekuningan, kental atau berbau tidak enak. Selain gatal, umumnya akan terasa tidak nyaman saat kencing atau berhubungan seksual dan terlihat bengkak di area vagina.
Beruntung penyakit ini bisa diobati menggunakan antibiotik, namun mengharuskanmu untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai dinyatakan sembuh. Selain itu, pihak suami juga perlu diperiksa juga.
Perubahan hormon
Foto: iStock
|
Para istri atau ibu yang menggunakan kontrasepsi hormon atau sedang mengalami menopause akan mengalami gatal di area vagina karena menurunnya produksi estrogen, yang juuga menyebabkan kekeringan. Periksakan dan informasikan pada dokter.
Bacterial vagonisis merupakan kondisi paling umum terjadi dan gejalanya selalu ditandai dengan gatal di lubang liang vagina. Penyakit ini disebabkan adanya ketidak seimbangan bakteri sehat dan perubahan pH yang terjadi di dalam liang vagina.
Penyakit ini umum terjadi saat sedang menstruasi, atau saat mencuci vagina, meminum antibiotik, dan alergi pada cairan semen apabila sudah menikah. Bacterial vaginosis juga biasanya diikuti dengan gejala adanya cairan yang keluar berbau amis, terutama setelah berhubungan seksual, atau tipis dan berair. Penyakit ini umumnya bisa ditangani dengan obat-obatan dan hindari penggunaan celana jeans yang terlalu ketat, sekaligus atur pola makan.
Infeksi jamur atau yeast infection juga merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi yang menyebabkan rasa gatal pada liang vaginamu. Sama seperti bacterial vaginosis, thrush biasanya disertai dengan cairan yang berwarna putih, kental, disertai rasa gatal di area vagina, nyeri saat berhubungan seksual atau kencing.
Pengobatan bisa dilakukan dengan mengonsumsi obat, dan bagi yang sudah menikah, umumnya obat diberikan dalam bentuk obat yang dimasukkkan ke dalam vagina. Pada umumnya, dalam seminggu infeksi ini bisa sembuh, jika tidak maka perlu diperiksakan ke dokter.
Untuk mencegah infeksi ini kembali terjadi, hindari produk dengan pewangi atau sabun untuk membersihkannya, keringkan area vagina usai membasuhnya, dan hindari mengenakan pakaian kain sintetis ketat. Infeksi ini juga biasa terjadi pada pengidap diabetes, peminum antibiotik dan yang memiliki sistem imun lemah.
Jika kamu adalah wanita yang sudah menikah dan merasakan bagian vagina batal dan terasa seperti terbakar usai seks, bisa jadi kamu mengalami alergi cairan semen atau sperma. Kamu bisa mencobanya dengan mengenakan kondom saat berhubungan seksual bersama suami dan jika memang kamu mengalami alergi ini, maka gejala gatal akan hilang.
Jika tetap ada, segera periksakan ke dokter karena bisa saja kamu mengalami alergi atau sensitif pada lateks. Bukan berarti kamu harus menghindari kondom, namun pilihlah kondom yang tidak berbahan lateks.
Trichomoniasis merupakan infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit mungil dan kecil, yakni trichomonas vaginales. Beberapa yang mengidapnya tidak mengalami gejala apapun, sehingga penting untuk rutin mengecek, apalagi jika kamu mengalami salah satu gejalanya yakni gatal di liang vagina.
Gejala lainnya adalah cairan yang keluar bisa berbusa, berwarna hijau kekuningan, kental atau berbau tidak enak. Selain gatal, umumnya akan terasa tidak nyaman saat kencing atau berhubungan seksual dan terlihat bengkak di area vagina.
Beruntung penyakit ini bisa diobati menggunakan antibiotik, namun mengharuskanmu untuk tidak melakukan hubungan seksual sampai dinyatakan sembuh. Selain itu, pihak suami juga perlu diperiksa juga.
Para istri atau ibu yang menggunakan kontrasepsi hormon atau sedang mengalami menopause akan mengalami gatal di area vagina karena menurunnya produksi estrogen, yang juuga menyebabkan kekeringan. Periksakan dan informasikan pada dokter.
(frp/up)