Selasa, 05 Nov 2019 09:10 WIB

Andai Kisah #LayanganPutus Dialami Orang Terdekat, Harus Bagaimana?

Nurul Khotimah - detikHealth
Ilustrasi curhat di medsos. Foto: iStock
Jakarta - Marak cerita mengharu biru yang tersebar di media sosial (medsos). Cerita dengan latar belakang kisah kehidupan yang pernah dialami ini seolah memiliki magnet hingga menjadi trending topik. Seperti kisah perselingkuhan yang heboh dengan tagar #layanganputus.

Melihat kisah-kisah sejenis ini membuat banyak warganet yang berempati dengan menggunakan tagar ini di lini masa twitter. Namun, bagaimana jika orang yang menulis cerita sedih seperti itu adalah kerabat kita?

Menurut Anastasia Satriyo, Psikolog di TigaGenerasi, Brawijaya Clinic Kemang dan Klinik Perhati Pluit, mendengarkan ceritanya adalah kunci utama ketika kerabat kita dalam posisi terpuruk mental. Sebagai manusia kita perlu menjadi orang sekitar yang mendukung tanpa menghakimi kerabat kita sendiri.


Ahli psikologi terapan Personal Growth, Ghianina Yasira Armand, BSc Psychology, MSc Child Development, menambahkan ketika mendapati kerabat dekat mengalami kasus mental seperti ini sebaiknya tidak menyebarkan cerita sebelum menanyakannya kepada pihak yang bersangkutan, harus mengetahui dan menjaga privasi orang lain.

Menanggapi kisah layangan putus yang viral, Anastasia berpendapat bahwa banyak kasus kesehatan mental lainnya yang melibatkan sosok ibu, ini menjadi semakin buruk ketika si ibu tak memiliki keahlian atau pekerjaan dan hanya menyerah atas masalah yang dihadapi.

"Beruntungnya si ibu ini punya keahlian jadi dia bisa mengaktualisasikan diri sesuai skill dan keahliannya," pungkasnya ketika dihubungi detikcom.



Simak Video "Keresahan Dokter Perihal Thermo Gun yang Ditembak di Tangan "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)