Ketua PB IDI (Ikatan Dokter Indonesia), dr Daeng M Fakih menjelaskan masalah terhadap kesejahteraan para dokter yang ditempatkan. Ia melanjutkan, ini juga menjadi saran dari IDI untuk pemerintah pusat maupun daerahnya.
"Problem ini sekaligus menjadi saran bagi pemerintah, di pusat maupun daerah yang ditempati untuk kami para dokter spesialis maupun umum," ujarnya pada detikcom, Selasa (5/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Jaminan keamanan, keselamatan, dan kesehatan
dr Daeng mengatakan, ini merupakan isu utama dan sangat penting bagi para tenaga medis yang bertugas merawat serta memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ini harus dipenuhi, melihat dari berbagai kemungkinan, seperti tertular penyakit, kondisi alam dan akses, serta masalah sosial.
"Karena mengobati itu kan, kami sebagai tenaga medis rentan sekali tertular. Atau di daerah pojok sana, rentan juga masalah sosial maupun bencana alam dan sebagainya," ujarnya.
2. Kelengkapan fasilitas pelayanan kesehatan
Fasilitas seperti sarana, alat, dan obat-obatan harus dilengkapi dengan baik. dr Daeng mengungkapkan, terkadang para dokter yang diutus ke suatu daerah, fasilitas pelayanan ini belum lengkap.
"Karena alat dan obat-obatannya tidak lengkap, dokter kan tidak bisa kerja kan. Ya mereka memilih pulang. Sudah rugi ongkos untuk ke sana ditambah tidak bisa menolong masyarakat setempat juga," tuturnya.
3. Reward untuk dokter
Reward untuk para dokter yang ditempatkan di berbagai daerah juga harus diperhatikan. Di program Pendayagunaan Dokter Spesialis ini, menurut dr Daeng rewardnya sudah cukup bagus, namun perlu terus diperhatikan lagi kedepannya.
4. Dukungan fasilitas sosial
Hal ini menjadi permasalah para dokter yang ditempatkan ke suatu daerah. Biasanya, mereka mau tapi tidak terpisah oleh keluarganya. Jika dibawa untuk menetap pun, mereka bingung karena fasilitas di daerah tersebut kurang memadai. Seperti contohnya sekolah, mungkin di daerah itu kurang memadai. Para dokter jadi berpikir, bagaimana anaknya bisa bersekolah di daerah tersebut.
"Nah, terpisah dari keluarga dengan waktu yang cukup lama membuat dokter itu bimbang. Ini yang harus dipikirkan pemerintah. Mungkin sistem cuti atau shift jaganya diperbaiki, agar mereka bisa mengunjungi keluarganya di daerah asal masing-masing. Karena, selama ini belum ada kebijakan yang detail seperti ini," tegas dr Daeng.
dr Daeng berharap, hal ini tidak hanya ditanggapi, tapi juga didengarkan. Meskipun memang pembenahan fasilitas dapat memakan waktu yang lama dan biaya yang mahal, pemerintah harus berpikir agar saran itu dapat terlaksana sehingga dokter bisa lebih tenang saat ditempatkan.
(kna/kna)











































