Kamis, 07 Nov 2019 08:05 WIB

Orang Kurus Bebas Kolesterol, Mitos atau Fakta?

Akfa Nasrulhak - detikHealth
Foto: shutterstock Foto: shutterstock
Jakarta - Orang bertubuh kurus pasti bebas kolesterol tinggi? Belum tentu lho. Ternyata itu hanya mitos belaka. Bentuk dan berat badan tidak ada hubungannya dengan kadar kolesterol dalam darah.

Orang yang kurus dan tampak sehat bugar bisa saja punya kolesterol tinggi tanpa menyadarinya. Menurut Head of Medical Kalbe Nutritionals dr Muliaman Mansyur, kelebihan kolesterol atau hiperkolesterolemia adalah suatu kondisi di mana tingginya kadar kolesterol dan lemak dalam darah.

"Kolesterol adalah lemak yang berwarna putih dan tersebar di seluruh sel tubuh. Tubuh kita sebenarnya memproduksi sendiri dan menyimpan persediaan kolesterolnya di hati. Penyebab utama tingginya kolesterol adalah dari makanan sehari-hari yang kita konsumsi, walau ada beberapa faktor lain penyebab tingginya kolesterol selain makanan seperti penyakit tertentu, usia tua, obesitas, alkohol dan asap rokok, kurang gerak serta juga ada faktor genetik," ujar dr Muliaman, kepada detikHealth, baru-baru ini.

Menurut dr Muliaman, keberadaan kolesterol ini sebenarnya sangat dibutuhkan untuk menunjang proses metabolisme tubuh. Seperti membantu produksi vitamin D yang nantinya berguna untuk tulang dan gigi, melindungi sel seperti sel otot dan sel syaraf hingga pembentukan asam empedu untuk penyerapan lemak.

"Tapi ingat hanya lemak yang baik yang dibutuhkan tubuh lemak. Kolesterol jahat malah akan berbahaya menempel di pembuluh darah dan menyumbat dan pecah yang sering disebut dengan stroke," ujarnya.

Pada orang yang gemuk, menurut dr Muliaman memang memiliki risiko hiperkolesterolemia lebih tinggi, karena memang di dalam jaringan tubuhnya banyak lemak. Tapi, pada orang yang kurus juga walau lemak tubuhnya sedikit, belum tentu juga kolesterol darahnya rendah atau normal.

"Karena banyak juga orang yang kurus karena sesuatu hal, terutama makan lemak berlebih maka kadar kolesterol darahnya meninggi," jelasnya.

dr Muliaman menambahkan, setelah mengonsumsi makanan berlemak tinggi, biasanya akan diserap dan harusnya dipakai sebagai sumber tenaga. Tapi jika makan terlalu banyak dan kurang aktivitas, maka lemak ini akan menumpuk di bagian tubuh mulai di pembuluh darah, pinggul dan perut.

"Lemak yang menumpuk di bagian perut ini sering disebut sebagai lemak viseral. Menurut para ahli lemak viseral ini sering disebut sebagai pencetus penyakit kardiovaskular (jantung pembuluh darah) seperti hiperkolesterolemia yang bisa menyebabkan stroke dan penyakit jantung koroner. Ini berkaitan pula dengan ukuran lingkar pinggang atau perut yang idealnya harus di bawah 90 cm untuk pria dan di bawah 80 cm untuk wanita," bebernya,

Mengingat bahaya dari lemak perut ini, maka bisa dijadikan patokan untuk memprediksi penyakit stroke dan penyakit jantung koroner. Kerena itu, untuk menghindarinya dengan cara pola hidup sehat mengatur makan dan olah raga teratur. Hindari makan yang berlemak tinggi seperti gorengan, santan, jeroan dan lain sebagainya.

Selain itu, Anda juga dapat mencegah hiperkolesterolemia ini dengan rutin mengonsumsi Nutrive Benecol 2 kali sehari setelah makan secara rutin. Nutrive Benecol mengandung Plant Stanol Ester (PSE) yang telah teruji klinis dapat membantu menurunkan kadar kolesterol darah 7-10% jika dikonsumsi teratur 2 kali sehari dalam 2-3 minggu.

Simak Video "Kata Dokter Soal Pria Sulit Lakukan 'Chair Challenge' yang Viral"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/up)