Selasa, 19 Nov 2019 15:55 WIB

Teror Pamer Kemaluan Gemparkan Bandung, Begini Cara Menghadapinya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Lokasi yang disebut-sebut dalam aksi ekshibisionisme pamer kemaluan. (Foto: Wisma Putra) Lokasi yang disebut-sebut dalam aksi 'ekshibisionisme' pamer kemaluan. (Foto: Wisma Putra)
Jakarta - Aksi 'ekshibisionisme' pamer kemaluan kembali terjadi, kali ini di Bandung, Jawa Barat. Aksi cabul ini dilakukan sekitar pukul 05.00 WIB pagi di depan salah satu rumah warga sekitar.

Korbannya, NF (22) kaget karena secara tiba-tiba seorang pria bermotor berhenti dan memamerkan alat vitalnya, saat ia ingin mengepel di depan rumahnya. Ia syok dan langsung menangis setelah melihatnya.

"Enggak lama dari saya lagi ngepel dia manggil saya, saya enggak nengok. Tapi dia manggil teteh terus pas saya nengok dia udah buka celana sambil menunjukkan kelaminnya. Saya syok lemes langsung nangis dianya juga langsung tancap gas," ujarnya via pesan singkat.



Aksi ekshibisionisme adalah penyimpangan seksual yang ditandai dengan perilaku memperlihatkan alat kelamin pada orang asing. Perilaku ini dilatarbelakangi adanya fantasi dan dorongan seksual yang kuat. Kelainan ini juga disebut dengan paraphilia. Pelakunya akan merasa puas dan senang saat melakukannya.

"Pelaku mendapat kepuasan dengan mempertontonkan alat kelaminnya di depan orang banyak," jelas seksolog Prof dr Wimpie Pangkahila, SpAnd dari Universitas Udayana, pada detikcom beberapa waktu lalu.

Butuh pemeriksaan untuk memastikan apakah aksi ini termasuk ekshibisionisme maupun gangguan kejiwaan. Yang pasti, perilaku tidak wajar ini cukup meresahkan.

Menurut psikolog klinis Felicia Illina Nainggolan, untuk menghadapinya memang tidak mudah. Namun, dengan bersikap pura-pura tidak peduli dan menyingkir ke tempat lain yang lebih aman bisa membantu.

"Pelaku ekshibisionisme puas ketika melihat orang lain kaget, takut, cemas, atau jijik. Ekspresi ini akan membuatnya senang. Segera alihkan posisi tubuh supaya tidak lagi menghadapi pelaku. Bila pelaku mendekat, sebaiknya lari menjauh dan berteriak untuk mendapat pertolongan dari orang lain," jelasnya.



Terkait kecenderungan ekshibisionisme ini juga ditanggapi oleh dokter spesialis kesehatan jiwa di Rumah Sakit Awal Bros, dr Alvina, SpKJ. Ia mengatakan, jika timbul rasa tidak nyaman di dalam diri korban aksi tersebut, segera berkonsultasi ke psikolog atau psikiater untuk mengatasinya.

Meskipun aksi seperti ini sangat mengkhawatirkan, tapi pelaku gangguan kesehatan mental ekshibisionisme ini juga butuh pertolongan dan harus segera ditindak agar tidak semakin menjadi.

"Perlu diperhatikan bahwa orang dengan ekshibisionisme adalah orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa atau mental yang memerlukan pertolongan secara medis. Hendaknya kita memandang orang-orang tersebut secara objektif," ujar dr Alvina.



Simak Video "Penjelasan Ahli Soal Dugaan Ekshibisionisme Pelaku Pelempar Sperma"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)