Sabtu, 23 Nov 2019 08:06 WIB

Pengidap Depresi Ingin di-Ruqyah, Psikiater: Nggak Ada Masalah

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Membaca Al-Quran, salah satu metode yang kerap dipakai saat ruqyah. (Foto: Pradita Utama) Membaca Al-Qur'an, salah satu metode yang kerap dipakai saat ruqyah. (Foto: Pradita Utama)
Jakarta - Tak jarang pengidap gangguan jiwa mengunjungi pengobatan alternatif seperti ruqyah yang oleh sebagian besar masyarakat dianggap mampu mengurangi gejala stres atau depresi. Banyak pasien gangguan jiwa yang akhirnya selain melakukan pengobatan medis, juga tetap melakukan terapi ruqyah.

"Gimana kalau dia mau ruqyah dan mendatangi dokter juga? Kalau misalnya mau di ruqyah, silahkan aja. Toh dilarang juga nggak bisa," kata psikiater dari RS Omni Hospital BSD, dr Andri SpKJ, FCLP, kepada detikcom saat dijumpai di daerah Jakarta Pusat, Jumat (22/11/2019).

Setiap orang punya cara mendapatkan pertolongan, papar dr Andri. Kalau misalnya memang pasien berobat ke pengobatan alternatif dan dapat hasil yang baik, misalnya dengan dia curhat lalu gejala gangguan jiwa yang ia alami berkurang, maka itu suatu nilai plus.


"Kalau sama-sama baik, sama-sama mendukung orang itu menjadi bagus, nggak apa-apa. Hanya yang jadi masalah kalau misalnya fokus pada pengobatan alternatif saat ada gejala yang harus segera ditangani," sebutnya.

Ia berharap guru spiritual seperti romo, ustad, konselor, psikolog, hipnoterapi, bisa memahami kalau gejala gangguan jiwa yang dialami oleh pasien sudah masuk kategori berat seperti muncul ide-ide bunuh diri, halusinasi, bahkan paranoid, untuk segera di rujuk ke psikiater agar mendapat penanganan yang komperhensif.



Simak Video "Viral! ODGJ Bantu Buka Jalan Ambulans di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/frp)