Selasa, 26 Nov 2019 18:31 WIB

Goo Hara Tertekan Saat di Korea, Lingkungan Dapat Pengaruhi Depresi

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Goo Hara. Foto: Instagram @Koohara__
Jakarta - Semasa hidupnya, Goo Hara memang banyak beraktivitas di Jepang. Hal itu mengharuskannya bepergian bolak-balik dari Korea ke Jepang. Namun, media di Jepang mengklaim, Goo Hara pernah mengaku merasa depresi setiap kali berada di Korea. Ia bahkan mengaku kepada temannya bahwa ia merasa tertekan saat berada di sana.

Dikutip dari Koreaboo, media tersebut juga menuliskan bahwa semasa ia melakukan promosi di Jepang, Goo Hara tampak baik-baik saja dan terlihat positif sama seperti orang pada umumnya. Mereka juga kaget saat mendengar kabar kematiannya.

Menurut psikiater di RS Omni Hospital BSD, dr Andri SpKJ, FCLP, penyebab dari depresi belum bisa diketahui secara pasti. Tetapi, ada faktor yang bisa mendukungnya, seperti genetik, traumatik, bahkan keadaan lingkungan di mana orang itu berada.

"Untuk mendiagnosis orang mengalami depresi, kita harus tahu kriterianya. Namun, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhinya, salah satunya masalah atau keadaan lingkungan di mana dia berada," jelasnya pada detikcom, Selasa (26/11).


Selain itu, beberapa tanda juga bisa dilihat saat seseorang mulai mengalami depresi, misalnya rasa putus asa yang berlebih hingga mood sedih yang terjadi terus-menerus dan berjalan selama lebih dari 2 minggu. dr Andri mengatakan, beberapa penelitian juga membuktikan di Asia Timur seperti China dan Korea, memiliki tingkat depresi yang tinggi.

Saat seseorang sudah mengalami gejala depresi dan hidup di lingkungan yang menekannya, itu juga akan mempengaruhi kondisi mentalnya. Akibatnya, ia terus-terusan merasa tertekan, panik, dan berujung dengan depresi.

"Jika orang yang sudah merasa kalau dirinya depresi, lalu dia berada di lingkungan yang kurang kondusif atau kurang baik, maka tingkat depresinya akan lebih kuat," imbuhnya.

dr Andri mengatakan, sebagai upaya untuk memperbaikinya, orang yang depresi harus berada di lingkungan yang memiliki pengaruh lebih positif dan dukungan baik dari orang di sekitarnya. Ini akan mempengaruhinya untuk dapat berpikir lebih jernih dan memperbaiki keadaan mentalnya.

"Coba pindah ke lingkungan yang lebih positif dari dia. Jangan sampai dia terus-menerus ada di lingkungan yang negatif yang malah makin membuatnya makin depresi. Atau bisa saja sebaliknya, orang-orang yang ada di sekitarnya lah yang ikut merasakan depresi juga," kata dr Andri.



Simak Video "Studi Sebut Pasien Sembuh Corona Alami Gangguan Kejiwaan"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)