Rabu, 27 Nov 2019 13:42 WIB

Perhimpunan Dokter Paru Tegaskan Vape Bukan Alat Bantu Berhenti Merokok

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Dokter paru-paru tak setuju vape disebut alat bantu berhenti merokok. (Foto: Shutterstock) Dokter paru-paru tak setuju vape disebut alat bantu berhenti merokok. (Foto: Shutterstock)
Jakarta - Maraknya tren rokok elektronik vape saat ini, digadang-gadang menjadi bentuk alat bantu untuk berhenti merokok konvensional. Terlebih banyak pengguna dari vape menyuarakan bahwa mereka sehat walaupun sudah vaping selama bertahun-tahun.

Namun, ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), mengatakan, bahwa penggunaan rokok elektronik sebagai alat bantu untuk berhenti merokok merupakan bukan hal yang tepat.

"Penelitian dari departemen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang terbaru, menyatakan 65,1 persen pengguna rokok elektronik di kalangan mahasiswa itu dua user, artinya dia menggunakan rokok konvensional dan juga rokok elektronik, itu justru lebih berbahaya karena double bahayanya," kata dr Agus saat ditemui detikcom di kantor PDPI, Pulogadung, Jakarta Timur, Selasa (26/11/2019).


Tidak haya itu, dr Agus juga menyatakan kalau rokok elektronik sebagai alat bantu untuk berhenti merokok bukanlah pernyataan yang tepat, melainkan lebih cocok dijadikan sebagai peralihan.

"Rokok elektronik itu peralihan, karena kalau alat bantu begitu dia berhenti dari rokok konvensional, ya namanya juga alat bantu, ya rokok elektroniknya juga berhenti dong! Itu baru namanya membantu berhenti merokok. Ini bukan namanya membantu, tapi namanya memindahkan dari rokok konvensional ke rokok elektronik," tegas dr Agus.



Simak Video "Bersiteguh Vape Aman, Vaper Ramai-ramai Pamer Rontgen Dada"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)