Senin, 02 Des 2019 12:01 WIB

Perut Mendadak Mulas Setelah Minum Boba Milk Tea? Mungkin Idap Kondisi Ini

Nurul Khotimah - detikHealth
Rasa mulas setelah minum boba bisa terjadi karena intoleransi laktosa. Foto ilustrasi: iStock Rasa mulas setelah minum boba bisa terjadi karena intoleransi laktosa. Foto ilustrasi: iStock
Jakarta - Minuman kekinian seperti boba tea yang sering dikreasikan dengan fresh milk menjadi incaran banyak orang. Rasa susu yang dikombinasikan dengan boba tea menambah cita rasa terbaik bagi penikmat boba.

Tapi pernahkah Anda merasa sangat kembung setelah meminumnya? Beberapa orang juga mengalami kembung hebat dan kentut setelah minum milk tea yang enak.

Kondisi ini disebut sebagai intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa adalah gangguan pencernaan yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh menerina laktosa, khususnya dalam produk olahan susu seperti milk tea.

Menurut spesialis penyakit dalam Dr. Sean Chung, kemampuan untuk mencerna laktosa atau gula yang ditemukan dalam susu hewani, adalah kondisi yang dimiliki hampir setiap orang. Beberapa memang akan mengalami penurunan drastis tapi banyak juga yang bertahan hingga dewasa


"Beberapa dari kita akan mengalami penurunan drastis dalam jumlah enzim ini, seringnya sekitar usia lima tahun. Pengurangan ini dikenal sebagai non-persistensi laktase. Jika laktosa tidak berkurang untuk penyerapan, ia tetap berada di usus, menarik air dari seluruh tubuh dan dikonversi oleh bakteri usus kita menjadi hal yang tidak menyenangkan, termasuk banyak gas hydrogen," kata dokter California, dikutip dari Next Shark, Senin (2/12/2019).

Kondisi ini yang seringkali menyebabkan perut kembung setelah minum susu. Awalnya, manusia memang memiliki laktosa intoleran, tapi makin berkembangnya industri pertanian membuat banyak orang mulai mencari sumber laktosa selain ASI.

Dikutip dari World of Buzz, orang Asia juga lebih rentan mengalami intoleransi laktosa daripada orang Eropa. Hal ini dikarenakan masyarakat Barat yang mendapat sedikit sinar matahari perlu mengonsumsi lebih banyak susu untuk mendapatkan kalsium karena mereka kekurangan vitamin D. Fakta ini menjelaskan bahwa orang non-Asia lebih mudah mencerna produk olahan susu dibanding orang Asia seperti Indonesia.

Dari pemetaan bisa dilihat bahwa negara yang lebih dekat ke garis khatulistiwa memiliki prevalensi intoleransi laktosa lebih tinggi. Menurut data, hanya 5 persen orang dewasa Eropa utara yang mengalami intoleransi laktosa, sementara lebih dari 90 persen dialami oleh masyarakat Asia.

Meski olahan susu dapat berisiko intoleransi laktosa pada masyarakat Indonesia, namun masih ada alternative lain untuk tetap menikmati olahan susu. Seperti keju dan yougurt yang memiliki kadar laktosa lebih rendah dibanding susu.


Simak Video "Manfaat Susu A2 Dibanding Susu Sapi"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)