Selasa, 03 Des 2019 12:31 WIB

Anak Barbie Kumalasari Sebut Ibunya 'Halu', Apa Sih Arti Sebenarnya?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Barbie Kumalasari dibilang halu oleh anaknya. Foto: Palevi S/detikFoto Barbie Kumalasari dibilang halu oleh anaknya. Foto: Palevi S/detikFoto
Jakarta - Anak dari Barbie Kumalasari, Keisha Aira dengan lugunya menyapa publik lewat media. Dengan tidak ragu, gadis 10 tahun itu menyebut ibunya sendiri sebagai orang yang 'halu' atau terlalu banyak berkhayal.

"Udah (mengerti karakter mami), mami karakternya halu," ujar Keisha Aira di kawasan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Senin (2/12/2019).

Kata 'halu' sering sekali digunakan banyak orang, terutama untuk mengungkapkan pendapatnya pada orang yang perkataannya sulit untuk dipercaya. Tapi, sebenarnya apa sih 'halu' itu? Dan apakah tepat untuk menggambarkan situasi itu?


Kata 'halu' yang berasal dari halusinasi ternyata kurang tepat artinya untuk menanggapi itu. Menurut psikiater dr I Gusti Rai Wiguna, SpKJ, orang-orang selama ini sudah salah menggunakan kata 'halu'. Padahal yang dimaksud sebenarnya adalah delusi.

"Yang orang bilang selama ini 'halu' atau halusinasi itu hubungannya dengan panca indera, seperti suara peluit disangka sebagai suara orang. Kaitannya dengan indera pendengaran, indera rasa, indera raba," katanya saat diwawancarai detikcom beberapa waktu lalu.

Sementara untuk orang yang perkataannya terlalu tinggi atau berlebihan, lanjutnya, lebih tepatnya disebut dengan delusi. Menurutnya, orang-orang selama ini salah arti, harusnya menggunakan kata delusi bukannya 'halu'.

Ditemui di lain kesempatan, dr Yuliana Ratna Wati, SpKJ, mengatakan delusi atau waham adalah sebuah gangguan yang meyakini suatu hal yang tidak sesuai dengan kenyataan. Meskipun kenyataannya sudah dipaparkan bersamaan dengan data yang objektif, tetap tidak akan mengubah keyakinannya terhadap hal tersebut.

"Delusi atau waham itu adalah sebuah gangguan pemikiran, seorang yang meyakini sesuatu yang tidak sesuai kenyataan. Sifatnya delusi sangat meyakini dan tidak bisa dibantah, dipatahkan, atau dikoreksi dengan cara apapun," ungkapnya

"Menurut terminologi psikiatri, orang yang mengalami delusi dan halusinasi berarti dalam kondisi psikotik. Yang bersangkutan tidak bisa lagi membedakan antara nyata dan tidak, fantasi, atau realita," tutupnya.



Simak Video "Jajal Langsung, Menjadi 19 cm di Klinik Mak Erot yang Legendaris "
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)