Selasa, 10 Des 2019 05:55 WIB

Jarum Suntik dan Seks Berisiko Masih Mendominasi Penularan HIV

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Hubungan seks masih mendominasi risiko penularan HIV (Foto: thinkstock)
Jakarta - Risiko penularan HIV-AIDS umumnya terjadi melalui hubungan seks berisiko. Namun, penggunaan jarum suntik pun ikut mendominasi penyebab penularan HIV AIDS.

Hal tersebut dijelaskan Drg Widwiono, MKes, Plt Direktur Kesehatan Reproduksi BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) pada Hari Aids Sedunia yang digelar di BKKBN, Jakarta Timur. Widwiono menegaskan, penggunaan jarum suntik kerap kali mendominasi penyebaran HIV-AIDS di masyarakat.

"Itu yang paling mendominasi penularan HIV juga karena jarum suntik. Jarum suntik itu bisa digunakan karena mereka abis suntik sembarangan, kemudian bisa juga dari suntik narkoba. Makanya jarum suntik harus menggunakan jarum suntik yang disposable. Tapi, kan mereka itu biasanya menggunakan jarum suntik nggak pandang bulu, jarum suntik bekas itu digunakan, nah itu penularan dengan potensi yang paling tingginya itu di situ," ujarnya Senin (9/12/2019).



Mengutip laporan Kementerian Kesehatan RI Triwulan II tahun 2019, faktor risiko penularan HIV terbanyak adalah sebagai berikut:

1. Hubungan seks berisiko pada heteroseksual sebesar 70,2 persen
2. Pengguna jarum suntik atau penasun sebesar 8,2 persen
3. Homoseksual sebesar 7 persen
4. Perinatal atau ibu ke anak sebesar 2,9 persen.

Menanggapi fenomena tersebut, Widwiono meyakini pencegahan yang dilakukan BKKBN melalui sosialisasi pada keluarga, komunitas, anak remaja dari SMP, SMA, mau pun Universitas dapat efektif memaksimalkan pencegahan yang dilakukan masing-masing kelompok kegiatan BKKBN.

"Kami memberikan informasi tentang, HIV, tentang AIDS tapi dalam tataran pencegahan saja, jadi ini bahayanya seperti ini, BKKBN kan memang pembangunan keluarga, pembangunan keluarga kan kita dari awal diikuti supaya mereka itu tumbuh pada keluarga yang sesuai dengan harapan semua keluarga, harapan pemerintah," jelasnya.

Menurut Widwiono langkah tersebut dapat lebih efektif karena sosialisasi pencegahannya langsung disampaikan secara berputar pada komunitas masing-masing.

"Beda kalau saya orang tua yang berikan informasi dengan HIV itu mereka kayanya agak resisten (menentang)," pungkasnya.



Simak Video "Pelayanan ODHA di Masa Pandemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)