Kamis, 12 Des 2019 05:50 WIB

Dokter Ingatkan Risiko 'Permak' Mr P, Salah-salah Malah Jadi Makin Pendek

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
DI lapangan, terapi tradisional pemak Mr P semacam 'Mak Erot' cukup populer (Foto: iStock)
Jakarta - Tren membesarkan ukuran Mr P dengan pengobatan pijat alternatif seperti 'Mak Erot' dan sejenisnya sedang ramai diperbincangkan. Terlebih setelah Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyinggungnya sebagai potensi wisata kebugaran.

Rupanya, terapi ini memang sangat populer. Beberapa terapis yang ditemui detikcom mengklaim pasiennya berasal dari berbagai kalangan.

Namun, harus diakui juga masih banyak pengobatan alternatif abal-abal sehingga pasien pun menjadi korban. Inilah yang menjadi keprihatinan ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (PERAPI), dr Budiman, SpBP RE(K).



"Ternyata banyak laporan pasien-pasien, paska pengobatan tradisional tersebut mengalami keluhan. Keluhannya adalah alat vitalnya menjadi gatal, kemudian kaku, memendek, kadang-kadang luka, selain jadi membesar. Nah ini kadang-kadang, pasien tidak bisa lagi melakukan hubungan (intim) yang normal dengan istrinya," kata dr Budiman saat ditemui detikcom, pada Rabu (11/12/2019).

Bila hal itu terjadi, dr Budiman menjelaskan perlunya dilakukan tindakan rekonstruksi pada alat vital yang sudah rusak. Ia sendiri mengaku tidak tahu persis apa yang dikerjakan para terapis dalam melakukan 'permak' ukuran Mr P, namun dampak yang kerap dilaporkan pasien dinilainya mengkhawatirkan.

"Tindakan rekonstruksi yang dilakukan adalah membuang kulit yang sudah kaku dan rusak tersebut. Kemudian menggantinya dengan cangkok kulit, yang diambil dari kulit tempat lain di tubuhnya untuk menggantikan kulit tersebut," tuturnya.



Simak Video "Menkes Terawan Bicara 9 Pilar IAR Corona Indonesia di Hadapan WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)