Minggu, 22 Des 2019 20:05 WIB

Pilih Pengobatan Alternatif untuk Kanker, Apa Bedanya dengan Medis?

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi kanker. Foto: Thinkstock
Jakarta - Kanker merupakan penyakit yang sangat ditakuti karena dapat menyebabkan kematian. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, ada sekitar 1,8 juta per 1.000 penduduk yang mengidap penyakit kanker.

Semakin mudahnya masyarakat mengakses informasi, semakin sadar masyarakat soal pendeteksian dini berbagai macam kanker. Namun, meskipun teknologi khususnya di bidang kesehatan sudah cukup canggih, masih saja ada masyarakat yang mencari pengobatan alternatif untuk kanker.

Salah satunya Ifa (40), wanita asal Tangerang yang mengidap kanker payudara mengaku tengah mencari-cari pengobatan alternatif untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Menurutnya, pengobatan alternatif bisa memberikan efek yang lebih cepat dibandingkan pengobatan medis.

"Kalau medis kan lama, operasi dulu habis itu kemo. Kemo kan ngeri. Jadi nyari alternatif juga biar lebih hilangnya (kanker -red)" ujarnya.

Lain halnya dengan Umi Jamilatun (46), yang sama-sama mengidap kanker payudara, ia lebih memercayakan pembasmian kankernya melalui pengobatan medis saja. Ia mengaku tidak percaya pada pengobatan alternatif yang efeknya belum teruji secara ilmiah.

"Kalau saya maunya secara ilmiah. Dalam perjalanan saya yang hampir lima tahun ini saya banyak belajar, kanker itu penyebabnya macam-macam. Obat ini (alternatif -red) si A cocok kita belum tentu cocok. Kalau obat kemo kan uji klinis udah berpuluh-puluh tahun, jadi sudah teruji. Kalau obat ini (alternatif -red) kan untung-untungan, jadi buat kesehatan saya nggak mau spekulasi," jelas Umi yang berasal dari Bekasi.



DR dr Ikhwan Rinaldi, SpPD-KHOM, MEpid, FINASIM, FACP dari RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo pernah menjelaskan bahwa ada beberapa pengobatan medis untuk kanker, yaitu operasi, kemoterapi, radiasi, terapi target, dan imunoterapi.

Pada kanker stadium awal dan belum menyebar (metastasis), pengobatan yang dilakukan adalah dengan operasi. Namun, jika sel kanker sudah menyebar, setelah operasi dianjurkan untuk melakukan pengobatan kemoterapi atau terapi target.

Perbedaan dari kemoterapi dan terapi target adalah pada sasarannya. Pada kemoterapi sasarannya bukan hanya sel kanker saja, namun sel sehat pun juga bisa dibasmi. Sementara terapi target menyasar hanya pada sel kanker saja. Efek samping terapi target juga lebih rendah daripada kemoterapi.

Pengobatan kanker pun terus berkembang. Kini telah hadir pengobatan imunoterapi, yaitu pengobatan yang memaksimalkan peran dari sistem kekebalan tubuh. Tetapi imonoterapi ini belum bisa digunakan untuk semua jenis kanker.

"Kalau ada kanker, sel imun ini nggak bisa kerja mematikan sel kanker. Si sel imun diikat sel kanker untuk tidak bisa menghancurkannya. Nah si imunoterapi itu ada yang megangin tangannya sel kanker supaya sel imun tangannya bisa dengan bebas membunuh sel kanker. Bukan obatnya (yang membunuh sel kanker) tapi imun tubuh kita," jelas dr Ikhwan.



Sementara dengan perkembangan pengobatan medis untuk kanker, berkembang pula pengobatan alternatifnya. Sebut saja akar bajakah yang belum lama ini menjadi viral setelah diteliti oleh siswa SMAN 2 Palangkaraya. Disebut-sebut akar bajakah dapat mengobati kanker payudara.

Dalam perihal kanker, juga masih banyak didengar pengobatan alternatif menggunakan herbal. Tak jarang pula kita melihat iklan-iklan produk herbal menggiurkan yang mengklaim mampu sembuhkan kanker secara total dengan biaya yang cukup tidak menguras kantong.

Dokter spesialis onkologi radiasi dari RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo pun memberi tanggapan soal pengobatan alternatif yang masih marah dicari pasien kanker. Menurutnya, kebanyakan pengobatan alternatif saat ini belum melalui fase penelitian secara kaidah yang berlaku.

"Jadi kami dari secara medis belum menganjurkan (pengobatan alternatif) karena kita nggak punya data. Saya bukan bilang tidak boleh, tapi dari mereka (pengobatan alternatif) melakukan penelitian kurang bisa kami anut," ungkapnya.



Simak Video "Seperti Feby Febiola, Ini Penyebab Rambut Rontok saat Kemoterapi"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/kna)