Kamis, 02 Jan 2020 18:30 WIB

Canggih, AI Google Kini Bisa Deteksi Kanker Payudara

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Canggih, Al Google kini bisa deteksi kanker payudara. (Foto illustrasi: Istock)
Jakarta - Sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) milik Google kini bisa secanggih ahli radiologi dalam mendeteksi wanita mana yang memiliki kanker di payudaranya. Deteksi ini dilakukan setelah skrining mammogram, dan dijanjikan mengurangi kesalahan.

Dilaporkan dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature, AI ini merupakan AI terbaru yang memiliki potensial untuk memperbaiki keakuratan skrining kanker payudara, yang menyerang 1 dari delapan wanita di seluruh dunia.

Hal ini disebabkan ahli radiologi kerap melewatkan kanker payudara dalam scan mammogram, sebanyak 20 persen, menurut American Cancer Society. Dan separuhnya memiliki periode 10 tahun salah diagnosis, demikian dilaporkan situs Reuters.

Penemuan studi ini menggunakan Alphabet Inc's (GOOGL.O) DeepMind AI unit, yang bergabung dengan Google Health pada September 2019 lalu. Mozziyar Etemadi, salah satu rekan penulis dari Northwestern Medicine di Chicago menyebut ini adalah kemajuan besar dalam deteksi dini kanker payudara.


Dalam studi tersebut mereka membandingkan performa sistem AI dengan hasil aslinya dari setumpuk 25.856 mammogram di Inggris dan 3.097 dari Amerika Serikat. Studi tersebut menunjukkan sistem AI bisa mendeteksi kanker dengan derajat keakuratan setara dengan radiolog ahli, sekaligus menurunkan hasil salah diagnosis sebanyak 5,7, persen di kelompok AS dan 1,2 persen di kelompok Inggris.

Etemadi mengatakan, walau komputer 'tidak begitu menolong' sejauh ini, yang dilakukan ia dan tim telah menunjukkan bahwa setidaknya puluhan dari ribuan mammogram ada alat yang bisa memberikan keputusan yang baik. Masih banyak studi yang perlu dilakukan.

Tentu saja studi ini memiliki beberapa keterbatasan. Kebanyakan tes digunakan dengan alat pemindai bertipe sama, dan kelompok dari AS mengandung banyak pasien yang memang mengidap kanker payudara.

"Yang krusial, tim belum menunjukkan alat ini meningkatkan perawatan pasien. Perangkat lunak AI hanya bisa membantu apabila menjadi kemajuan bagi para radiolog," kata Dr Lisa Watanabe, chief medical officer dari CureMetrix, yang program AI mammogramnya memenangkan persetujuan AS tahun lalu.

baca juga

Simak Video "Seperti Feby Febiola, Ini Penyebab Rambut Rontok saat Kemoterapi"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)