Sabtu, 11 Jan 2020 09:01 WIB

Round up

Tes Toksikologi, Proses Pemeriksaan yang Dijalani Jenazah Lina Eks Istri Sule

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pembongkaran makam dan autopsi Lina Jubaedah. (Foto: Makam Lina eks Sule dipindahkan / Dony IR)
Jakarta - Setelah meninggalnya Lina Jubaedah, eks istri Sule, Rizky Febian membuat laporan ke kepolisian adanya keganjilan terkait penyebab kematian ibunya. Polisi akhirnya menindaklanjuti dengan melakukan pembongkaran makam hingga autopsi.

Ahli forensik RS Bhayangkara Sartika Asih Polda Jabar, AKBP Robert Tanjung masih akan melakukan pemeriksaan lagi. Jenazah akan dilakukan pemeriksaan toksikologi di Puslabfor Mabes Polri.

"(Pemeriksaan toksikologi) itu memerlukan waktu satu sampai dua minggu. Nanti setelah hasil itu ada, kita serahkan ke penyidik. Nanti penyidik lah yang menentukan," tuturnya.


Pemeriksaan toksikologi yang dikenal dengan uji toksikologi forensik adalah hasil dari prosedur laboratorium yang mengidentifikasi dan menghitung adanya cairan atau racun di dalam tubuhnya. Cairan yang dimaksud meliputi obat-obatan selama perawatan atau kandungan lainnya yang mungkin menjadi penyebab kematiannya.

"Pemeriksaan toksikologi ini masih termasuk bagian dari rangkaian laporan autopsi. Tapi, di fase ini akan lebih detail dan mendalam terkait adanya cairan, zat, bahkan racun yang menjadi penyebab kematian seseorang. Mungkin tidak terlihat efeknya secara fisik," jelas Direktur medis layanan laboratorium di Rumah Sakit Sharp Memorial dan ahli patologi San Diego, dr Howard S Robin, MD, dikutip dari WebMD.

Untuk melakukan tes ini, harus mengumpulkan sampel yang dibutuhkan, seperti darah, urine, hingga bagian jaringan tubuh. Darah yang dibutuhkan dari bagian vena femoralis (di kaki) dan darah dari jantung. Ini diperlukan karena konsentrasi obat atau cairan di keduanya berbeda dan hasil yang didapat semakin akurat.

Sampel lain yang dibutuhkan dalam pengujian toksikologi forensik ini adalah jaringan dari hati, otak, ginjal, dan humor vitreus atau gel bening yang ditemukan di bola mata. Pengambilan sampel biasanya dilakukan oleh patolog atau asisten yang mengurusi mayat dan memakan waktu selama 15-20 menit.


"Hal pertama yang akan kami lakukan adalah penapisan dasar untuk mengecek adanya kandungan obat-obatan dalam urin dan darah. Seperti opiat, amfetamin, marijuana, alkohol, barbiturat, dan sebagainya," kata Magnani.

Para ahli harus memastikan apa ada zat lain yang ditemukan, seperti obat terapi, toksik, atau zat mematikan lainnya serta dosis yang digunakan. Selain itu, hasil tes juga akan membuktikan jenis zat, kadarnya, dan menyebabkan kematian atau tidak.

"Proses tes ini sangat panjang. Butuh empat hingga enam minggu cukup standar (tes toksikologi). Selain itu, tidak menutup kemungkinan akan perlu tes laboratorium lain yang lebih khusus dan spesifik. Cukup melelahkan dan bisa membutuhkan waktu tambahan," ujarnya yang dikutip dari WebMD.



Simak Video " Nggak Cuma Indah, Bunga Ini Bisa Dibuat Jadi Minuman Sehat!"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)