Rabu, 15 Jan 2020 09:27 WIB

Metode Cuci Darah yang Umum Dilakukan

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Peralatan hemodialisis atau cuci darah (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth) Peralatan hemodialisis atau cuci darah (Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth)
Jakarta - Penyakit gagal ginjal adalah penyakit tak menular yang menjadi salah satu beban tanggungan terbesar BPJS Kesehatan. Penyakit ini mampu menyerap biaya hingga lebih dari 20 persen total anggaran yang dimiliki.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris juga menyebutkan, total anggaran yang diberikan BPJS Kesehatan untuk cuci darah saja mencapai Rp 4,8 triliun rupiah pada 2018 lalu. Bahkan dalam satu tindakan, Direktur klinik Hemodialisis Tidore, Jakarta Pusat, Andreas Japar mengatakan harganya bisa berbeda, tergantung tingkat fasilitas kesehatannya.

"Rp 737.700 untuk klinik HD (hemodialis) tipe D, kalau klinik di luar rumah sakit tipe D. Ada lagi rumah sakit tipe C itu sekitar Rp 825.000, kelas B sekitar Rp 935.000, kelas A antara sekitar Rp 1.000.000," kata Andreas saat ditemui detikcom, Senin (13/1/2020).

Selain harganya yang selangit, tindakan cuci darah juga memiliki metode yang berbeda-beda yang dikutip dari laman Healthline.



1. Hemodialisis

Cuci darah jenis ini adalah yang paling umum dikenal orang. Metode ini menggunakan mesin khusus untuk menyaring darah, menggantikan peran ginjal yang sudah rusak. Proses cuci darah ini dilakukan oleh petugas medis yang memasukkan jarum pada pembuluh darah untuk menghubungkan aliran darah dari tubuh ke mesin pencuci.

Lalu, darah kotor akan disaring pada mesin pencuci. Kemudian, darah yang sudah bersih akan dialirkan kembali ke dalam tubuh. Metode ini umumnya berlangsung sekitar 3-5 jam per sesi. Dalam seminggu, ada 3 sesi cuci darah yang harus dijalani di klinik atau rumah sakit tertentu. Selain itu, ada efek samping yang akan dirasakan seperti kulit gatal dan kram pada otot.

2. Dialisis peritoneum

Pada metode ini, harus dilakukan pembedahan kecil untuk menanamkan kateter peritoneum sebagai penyaring darah. Peritoneum ini memiliki ribuan pembuluh darah kecil yang bisa berfungsi seperti layaknya ginjal. Kateter ini akan ditinggal di dalam rongga perut secara permanen untuk memasukkan cairan dialisat.

Cairan tersebut mengandung gula tinggi yang berguna untuk menarik zat limbah dan kelebihan cairan di pembuluh darah sekitar rongga perut. Setelah selesai, cairan dialisat yang berisi limbah itu akan dialirkan ke kantong khusus dan dibuang. Setelah itu, akan diganti dengan cairan yang steril.

Proses metode ini membutuhkan waktu beberapa jam dan dilakukan berulang 4-6 kali dalam sehari, tapi bisa dilakukan di rumah bahkan saat pasien tidur. Efek sampingnya bisa berupa peritonitis (infeksi peritoneum yang mengelilingi rongga perut), perut terasa penuh saat cuci darah berlangsung, berat badan naik karena cairan dialisat yang mengandung kadar gula cukup tinggi, atau munculnya hernia akibat berat cairan di dalam rongga perut.

3. Terapi penggantian ginjal berkelanjutan (CRRT)

Untuk metode ini digunakan untuk para penderita gagal ginjal akut dan dikenal sebagai hemofiltrasi. Pada metode ini menggunakan mesin yang melewati darah melalui pipa yang digunakan untuk menyaring darah.

Setelah bersih dari limbah dan air, darah akan dikembalikan ke tubuh bersamaan dengan cairan pengganti. Metode ini umumnya dilakukan setiap hari atau 12 hingga 24 jam sehari.



Simak Video "Penderita Gagal Ginjal Tak Boleh Minum Terlalu Banyak"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)