Senin, 20 Jan 2020 14:27 WIB

Kenali Penyebab Penyakit Antraks dan Gejalanya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Pemkab Gununkidul merazia angkutan ternak terkait ancaman antraks (Foto: Pradito Rida Pertana/detikHealth)
Jakarta - Kasus antraks bermunculan di Gunungkidul, Yogyakarta. Apa itu antraks? Penyakit antraks adalah penyakit langka yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Antraks dapat terinfeksi pada manusia melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan yang sakit. Biasanya bakteri antraks dapat masuk ke tubuh melalui luka di kulit. Antraks juga dapat terinfeksi akibat memakan daging yang terkontaminasi.

Tanda dan gejala antraks rupanya tergantung pada cara penularannya, sebagian gejalanya dapat ditandai dengan luka pada kulit, muntah, hingga syok.

Berikut gejala virus anthraks berdasarkan cara penularannya, dikutip dari Mayo Clinic:

1. Anthraks Kulit

Pada penyakit anthraks kulit, tubuh terkena infeksi bakteri melalui luka sayatan atau luka lainnya pada kulit. Kasus ini paling sering terjadi dan paling ringan. Anthraks kulit jarang menyebabkan kematian, jika ditangani dengan benar. Virus anthraks kulit, ditandai dengan munculnya benjolan gatal, seperti gigitan serangga pada bagian yang terkena infeksi. Setelah gatal, benjolan tersebut akan berubah menjadi borok yang tidak terasa nyeri, dan berwarna hitam pada bagian tengah. Pembengkakan juga akan terjadi pada kelenjar getah bening dekat luka.

2. Anthraks Inhalasi

Penyakit anthraks jenis ini merupakan jenis yang paling mematikan. Anthraks inhalasi menular dan berkembang saat pengidap menghirup spora anthraks. Gejala awalnya akan menyerupai gejala penyakit flu, seperti demam, nyeri tenggorokan, nyeri otot, dan lelah. Lalu, muncul rasa tidak nyaman pada dada, napas menjadi pendek, mual, batuk darah, nyeri saat menelan, demam tinggi, kesulitan bernapas, syok, serta terjadi meningitis.

3. Anthraks Gastrointestinal

Bakteri anthraks masuk ke dalam tubuh pengidap melalui konsumsi hewan yang terinfeksi anthraks, karena tidak dimasak sampai matang. Virus anthraks gastrointestinal adalah mual dan muntah, nyeri perut, sakit kepala, nafsu makan menurun, demam, diare parah dengan kotoran bercampur darah, radang tenggorokan dan kesulitan menelan, serta pembengkakan leher.

4. Anthraks Injeksi

Biasanya bakteri masuk ke tubuh melalui injeksi obat-obatan terlarang. Jenis ini merupakan cara penularan paling baru yang ditemukan. Timbul kemerahan pada lokasi suntikan, pembengkakan hebat, syok, kegagalan multi organ, dan meningitis sebagai gejalanya.



Lalu, bagaimana cara mendiagnosis penyakit antraks?

Dalam mendiagnosis virus antraks, pemeriksaan awal adalah biasanya dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit-penyakit lain yang memiliki gejala serupa, seperti flu, atau gejala pneumonia yang mirip antraks inhalasi. Setelah itu, dapat dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan lanjutan, seperti:

1. Pemeriksaan patologi

Dalam pemeriksaan patologi, cairan dari luka yang dicurigai atau sampel jaringan kulit pada daerah yang terinfeksi akan diambil untuk diperiksa.

2. Pemeriksaan darah

Memeriksa ada tidaknya bakteri anthraks dalam darah pengidap. Fungsi lumbal (spinal tap). Pengambilan sampel cairan otak dari area tulang belakang pengidap untuk diperiksa lebih lanjut, guna mengonfirmasi diagnosis meningitis yang disebabkan oleh anthraks.

3. Pemeriksaan kotoran

Kotoran pengidap diperiksa untuk memastikan diagnosa penyakit anthraks gastrointestinal.

4. Pemindaian

Foto rontgen atau CT-scan dada, dilakukan pada pengidap yang dicurigai mengidap penyakit anthraks inhalasi.

Setelah diagnosis, pengobatan virus antraks biasanya dilakukan dengan menggunakan antibiotik. Jenis antibiotik dan lama pemberian antibiotiknya tergantung dari gejala yang dialami oleh pengidap. Namun secara umum, antibiotik yang digunakan adalah doksisiklin atau golongan kuinolon seperti, siprofloksasin dan levofloksasin. Jika terjadi kondisi sesak napas yang berat atau syok, perawatan di ruang rawat intensif perlu dilakukan.



Meski begitu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit antraks. Berikut pencegahannya:

1. Antibiotik

Antibiotik dianjurkan untuk mencegah infeksi pada siapa pun yang terpapar spora.

2. Vaksin antraks

Tersedia vaksin antraks untuk manusia. Vaksin ini tidak mengandung bakteri hidup dan tidak dapat menyebabkan infeksi, tetapi dapat menyebabkan efek samping, mulai dari rasa sakit di tempat suntikan hingga reaksi alergi yang lebih serius. Vaksin ini tidak ditujukan untuk masyarakat umum. Ini hanya disediakan untuk anggota militer, ilmuwan yang bekerja, dan orang-orang di profesi berisiko tinggi lainnya.

3. Menghindari hewan yang terinfeksi

Jika tinggal atau bepergian di negara di mana antraks umum terjadi, dan hewan ternak tidak divaksinasi secara rutin, hindari kontak dengan ternak dan kulit binatang. Hindari makan daging yang belum dimasak dengan benar.

Banyak penyakit umum dengan gejala yang menyerupai flu. Jika kamu merasakan gejala yang timbul cenderung mirip seperti gejala virus antraks, sebaiknya segera kunjungi dokter agar segera langsung melakukan perawatan. Karena diagnosis dan perawatan dini itu sangat penting.



Simak Video "Dampak Serius Pipis di Kolam Renang"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)