Rabu, 05 Feb 2020 20:00 WIB

Virus Corona Wuhan Segera Punya Nama Resmi, Ini Kriterianya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
WUHAN, CHINA - JANUARY 31:  (CHINA OUT) A man wears a protective mask as he ride a bicycle across the Yangtze River Bridge on January 31, 2020 in Wuhan, China.  World Health Organization (WHO) Director-General Tedros Adhanom Ghebreyesus said on January 30 that the novel coronavirus outbreak has become a Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).  (Photo by Stringer/Getty Images) Virus corona baru akan segera punya nama resmi. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Virus corona yang mewabah di Wuhan, China hingga saat ini belum punya nama resmi. Nama 'sementara' 2019-nCoV atau Novel Coronavirus dianggap sulit diucapkan.

Penamaan virus baru memang rumit, salah-salah bisa memicu dampak yang tidak diharapkan. Dicontohkan, julukan 'swine flu' atau flu babi untuk virus H1N1 pernah memicu pembantaian babi. Padahal virus ini ditularkan oleh manusia, bukan oleh babi.

Hal serupa juga terjadi pada penamaan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang sempat populer dengan istilah 'flu unta'.

"Penggunaan nama seperti 'flu babi' dan MERS telah memiliki dampak negatif yang tidak diharapkan lewat stigma pada komunitas dan sektor ekonomi tertentu," kata pejabat WHO saat itu, Dr Keiji Fukuda, dikutip dari BBC, Rabu (5/2/2020).

Pemberian nama virus menjadi tanggung jawab International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV). Berdasarkan panduan yang telah ditetapkan, nama virus baru tidak boleh mengandung:

- Lokasi geografis
- Nama orang
- Nama binatang atau makanan tertentu
- Merujuk pada kultur atau industri tertentu.

Dikatakan, nama virus baru harus pendek dan menjelaskan, seperti SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome).



Simak Video "Mengenal 'Remdesivir' yang Digadang Jadi Antivirus Corona 2019-nCoV"
[Gambas:Video 20detik]
(up/kna)