Senin, 10 Feb 2020 09:12 WIB

Vaksinolog Komentari Riset Harvard Soal Virus Corona 'Sudah Masuk RI'

Firdaus Anwar - detikHealth
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Riset Harvard melakukan prediksi dengan melihat jumlah penerbangan. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Studi yang dilakukan peneliti Harvard University belakangan ini jadi perbincangan. Alasannya karena studi memprediksi seharusnya virus corona baru (2019-nCoV) sudah masuk ke Indonesia berdasarkan volume penerbangan dari dan ke Wuhan.

Namun demikian menurut Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan drg R Vensya Sitohang, MEpid, hingga hari Jumat (7/2/2020) belum ditemukan adanya kasus positif di Indonesia. Hal ini diketahui setelah Kementerian Kesehatan menguji 50 spesimen sampel dari pasien dugaan virus corona.

"Indonesia belum melaporkan adanya kasus, dan seharusnya Anda sudah menemukan beberapa," kata salah seorang peneliti, Marc Lipsitch, dikutip dari IBTimes.

Terkait hal tersebut vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD, dari OMNI Hospitals Pulomas berkomentar bahwa studi harus jadi perhatian.

"Itu adalah perkiraan yang dibuat berdasarkan metode statistik yang dapat dipertanggungjawabkan. Tentu saja, secara saintifik, harus menjadi perhatian," kata dr Dirga pada detikcom, Senin (10/2/2020).

"Namun namanya perkiraan, bisa benar bisa salah," lanjutnya.

dr Dirga menyebut mungkin saja virus sudah masuk namun belum terdeteksi. Namun demikian tidak menutup kemungkinan memang Indonesia 'luput' dari serangan virus seperti contohnya ketika wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) beberapa tahun lalu.



Simak Video "Mengenal 'Remdesivir' yang Digadang Jadi Antivirus Corona 2019-nCoV"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)