Senin, 10 Feb 2020 10:41 WIB

Riset Harvard Soal Virus Corona di Indonesia Seharusnya Tak Bikin Panik

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Petugas gabungan Pengawasan Orang Asing (PORA) mengunjungi Lai Chin Cheung (60, tengah), WNA asal Hongkong yang tinggal bersama istrinya yang asli pribumi (WNI), Zulfatun Nimah (36, kiri), di Gandong, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (7/2/2020). Pengawasan Orang Asing itu dilakukan secara gabungan dengan melibatkan tim Dinas Kesehatan demi mengantisipasi wabah novel corona atau 2019-nCov melalui WNA yang berasal atau memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara terdampak virus memastikan. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/pd. Pengawasan yang dilakukan oleh petugas sebagai langkah antisipasi virus corona. (Foto: ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid)
Jakarta -

Ramai diperbincangkan kembali sebuah riset yang dilakukan di Harvard University. Riset tersebut memprediksi seharusnya virus corona 2019-nCoV sudah masuk ke Indonesia.

Menanggapi hal ini Prof Amin Soebandrio, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, mengatakan riset tersebut hanyalah sebuah prediksi sehingga masyarakat tak perlu panik.

"Prediksi itu kita pakai hanya untuk menambah kewaspadaan saja, bukan untuk menambah paranoid. Namanya juga prediksi, kita harus menyikapi dengan cerdas prediksi itu," Kata Prof Amin, kepada detikcom, Senin (10/2/2020).

Menurutnya, masyarakat harus tetap waspada dan menjaga kebersihan, serta jangan terlalu terpaku dengan virus corona. Sebab masih banyak virus yang lebih menular dan berbahaya bagi kesehatan.

"Virus influenza misalnya, itu lebih menular dan angka kematiannya juga lebih tinggi, sama-sama menyebabkan gangguan kesehatan yang parah pada usia lanjut," ucap Prof Amin.

"Jadi, jangan hanya terpaku pada virus corona dan kemudian mengabaikan infeksi yang lain," tuturnya.



Simak Video "Dugaan Lain Munculnya Virus Corona, Kebocoran Laboratorium Wuhan?"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)