Rabu, 12 Feb 2020 05:26 WIB

Round Up

Beda Sikap WHO dan Guru Besar UI Soal Kemampuan RI Deteksi Virus Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan Siswanto (kiri) bersama Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Kementerian Kesehatan Vivi Setiawaty (kanan) mengenakan pakaian steril saat akan memasuki Labotarium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di Jakarta, Selasa (11/2/2020). Balitbangkes merilis data terbaru hasil pemeriksaan pasien dalam pengawasan novel coronavirus per 10 februari 2020 pukul 18.00 WIB, total kasus yang spesimennya dikirim ke Laboratorium Balitbangkes sebanyak 64 kasus, sebanyak 62 kasus uji spesimen hasilnya negatif novel coronavirus dan dua masih dalam pemeriksaan. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/hp. Laboratorium Balitbangkes dinilai mampu mendeteksi virus corona Wuhan (Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia WHO angkat bicara soal penilaiannya terhadap kemampuan Indonesia mendeteksi virus corona Wuhan 2019-nCoV. Ini terkait dengan tidak adanya kasus hingga saat ini, ketika korban jiwa di seluruh dunia telah tembus angka 1.000.

Faktanya, data terbaru dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan menunjukkan sebanyak 64 uji spesimen yang masuk, 62 di antaranya sudah terkonfirmasi negatif.

Dr Vinod Kumar, yang merupakan salah satu perwakilan WHO baru-baru ikut meninjau laboratorium, tempat menguji spesimen virus corona di Balitbangkes. Bagaimana penilaiannya soal kemampuan untuk mendeteksi novel coronavirus?

"Jadi kan hari ini kalian sudah mendengar apa yang dijelaskan Bu Vivi (Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Dr dr Vivi Setyawaty, M Biomed), dia sudah menjelaskan proses, dan prosedur uji spesimen seperti apa, dan hari ini kita konfirmasi kalau Indonesia sudah bisa mendeteksi novel coronavirus, labnya juga sudah kompeten," jelas Dr Vinod Kumar, Medical Officer di WHO, saat ditemui di Gedung Pelayanan Publik Balitbangkes, Jakarta Pusat, Selasa (11/2/2020).

Namun Dr Vinod mengimbau Indonesia untuk tetap waspada dalam menangani virus corona 2019-nCoV ini. Meski alat deteksi di Indonesia kini sudah mampu mendeteksi langsung novel coronavirus, persoalan mengapa 2019-nCoV belum masuk Indonesia masih menjadi tanda tanya sebagian orang.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dr Anung Sugihantono, mengatakan kemungkinan virus corona belum masuk Indonesia bisa jadi karena imunitas. Hal ini didukung oleh kabar terkait 78 WNI yang ada di kapal pesiar Jepang Diamond Princess yang dikonfirmasi negatif 2019-nCoV.

"Ini mungkin ya, karena ilmiahnya masih harus dibuktikan. Mungkin memang kita mempunyai kekebalan tertentu pada penyakit tertentu. Imunitas kita berbeda pada penyakit tertentu," katanya.

"Jadi maksud saya mari kita berpikir secara rasional. Ini ada di dalam satu kapal loh. Kalau WNI kita yang ada di Wuhan itu masih satu provinsi luas banget. Tapi di dalam satu kapal, seminggu di situ, sudah ada yang sakit di situ, kalau ngomong (penularan melalui) airbone kira-kira sakit semua gak? Kalau ngomong droplet ini ada yang office boy, ada waitress, mestinya melayani ke kamar (tertular). Masih banyak yang harus kita pelajari, mesti bijak lah," tegasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Mengenal 'Remdesivir' yang Digadang Jadi Antivirus Corona 2019-nCoV"
[Gambas:Video 20detik]