Kamis, 13 Feb 2020 15:54 WIB

Peneliti Harvard ke Menkes Terawan: Saya Tak Bermaksud Menghina

Firdaus Anwar - detikHealth
Dokter Spesialis Paru-Paru RS PMI Bogor Nancy Sovira (kiri)  menyemprotkan antiseptik pada warga saat sosialisasi pencegahan virus Corona di Kota Tua Penagi, Ranai, Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (6/2/2020). Sosialisasi kesehatan tersebut sebagai bentuk kepedulian bagi warga yang tinggal berjarak sekitar satu kilometer dari tempat diobservasinya 238 WNI pascaevakuasi dari Wuhan, Hubei, China yang memasuki hari kelima dalam keadaan sehat dan baik. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj. Dituduh menghina, peneliti Harvard tanggapi Menkes Terawan (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Jakarta -

Sempat heboh soal studi yang dilakukan peneliti Harvard University yang memprediksi seharusnya Indonesia sudah memiliki kasus virus corona (COVID-19). Hal ini didasari oleh model yang menghitung volume penerbangan dari dan ke Wuhan.

Ketika Indonesia hingga saat ini tidak melaporkan ada kasus, peneliti menduga kemungkinan ada yang tidak terdeteksi.

Menteri KesehatanTerawan Agus Putranto berkomentar menyebut studi sebagai penghinaan. Ia mempersilahkan peneliti di Harvard langsung datang untuk membuktikan kemampuan pengawasan Indonesia.

"Itu namanya menghina itu. Wong peralatan kita, makanya kemarin di-fix-kan dengan duta besar Amerika. Kita menggunakan dari Amerika. Kitnya, kit boleh gunakan dari mana aja, tapi kita gunakan dari Amerika," ujar Terawan di Istana Kepresidenan Bogor beberapa waktu lalu.

Profesor Marc Lipsitch selaku pemimpin studi menjawab tuduhan tersebut mengaku tidak bermaksud menghina Indonesia. Hal ini terungkap dalam video yang direkam oleh Youtuber Nadhira Afifa.

"Tujuan dari studi kami adalah untuk melihat apakah kasus yang sudah terdeteksi benar-benar mewakilkan kondisi sebenarnya," kata Profesor Marc seperti dikutip dari kanal youtube Nadhira Afifa, Kamis (13/2/2020).

Marc juga menyebut ketika memulai studinya tidak ada niatan mengkhususkan negara tertentu. Perhitungan dilakukan pada semua negara sebagai langkah untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Kami memperhatikan semua negara dan tujuan kami bukan untuk menilai kualitas suatu negara atau kemampuan pengawasannya. Hanya ingin bilang 'dalam contoh ini, situasi ini, seharusnya sudah ada kasus yang terdeteksi,'" lanjut kata Marc.

"Saya terbuka dan dengan senang hati berusaha membantu. Tentunya saya tidak bermaksud menyerang negara mana pun," pungkasnya.



Simak Video "Sebut WNI ABK World Dream 'Duta Imunitas Corona', Menkes Dicibir"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)