Jumat, 14 Feb 2020 05:00 WIB

Round Up

Jawaban Peneliti Harvard Soal Riset Corona yang Bikin Menkes 'Terhina'

Firdaus Anwar - detikHealth
WHO resmi menamai virus Corona yang menewaskan 1.115 orang. Virus mematikan yang pertama kali diidentifikasi di China pada 31 Desember itu dinamai COVID-19. Sebuah riset memprediksi seharusnya virus corona COVID-19 sudah masuk Indonesia (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Ahli epidemiologi Profesor Marc Lipsitch dari Harvard University membuat heboh ketika studinya menyebut Indonesia terkait kasus virus corona (COVID-19). Menurutnya dengan memperhitungkan jumlah penerbangan dari dan ke Wuhan, seharusnya Indonesia sudah menemukan kasus virus corona.

Nyatanya hingga saat studi dipublikasi Indonesia sama sekali belum mengumumkan kasus positif virus corona. Profesor Marc menyebut bisa jadi Indonesia tidak melaporkan karena memang kasusnya tidak terdeteksi.

Studi lalu jadi ramai di media sosial dan jadi perbincangan. Hingga akhirnya Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto, memberikan komentar menyebutnya sebagai penghinaan.

"Itu namanya menghina itu. Wong peralatan kita, makanya kemarin di-fix-kan dengan duta besar Amerika. Kita menggunakan dari Amerika. Kitnya, kit boleh gunakan dari mana aja, tapi kita gunakan dari Amerika," ujar Terawan di Istana Kepresidenan Bogor beberapa waktu lalu.

Dalam wawancara terbaru dengan youtuber Nadhira Afifa, Profesor Marc mengaku tidak bermaksud menghina atau merendahkan Indonesia. Ia menegaskan studinya melihat data berbagai negara untuk melihat apakah kasus yang dilaporkan saat ini sudah mendekati kondisi sebenarnya berdasarkan model statistik.

"Kami memperhatikan semua negara dan tujuan kami bukan untuk menilai kualitas suatu negara atau kemampuan pengawasannya. Hanya ingin bilang 'dalam contoh ini, situasi ini, seharusnya sudah ada kasus yang terdeteksi,'" kata Profesor Marc seperti dikutip dari kanal youtube Nadhira Afifa.

"Saya terbuka dan dengan senang hati berusaha membantu. Tentunya saya tidak bermaksud menyerang negara mana pun," lanjutnya.

Lebih jauh Prof Marc menjelaskan semua negara bisa mengalami kemungkinan kasus yang tidak terdeteksi dan itu bukanlah sebuah hal yang hina. Oleh sebab itu studinya dilakukan sehingga negara-negara dapat lebih melihat sinyal yang harus diperhatikan.

Prof Marc juga menegaskan tidak bermaksud menuduh Indonesia sengaja menutup kasus.

"Kami tidak pernah bermaksud mengatakan bahwa Indonesia sedang menutup-nutupi sesuatu," pungkas Marc.



Simak Video "Menkes Inspeksi ke Kantor BRI II Terkait Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)