Senin, 17 Feb 2020 16:42 WIB

Health Alert Card di Bandara Bikin Ribet, Ini Saran Guru Besar FKM UI

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
A Malaysian health officer screens arriving passengers with a thermal scanner at Kuala Lumpur International Airport in Sepang on January 21, 2020 as authorities increased measure against coronavirus. - China has confirmed human-to-human transmission in the outbreak of a new SARS-like virus as the number of cases soared and authorities January 21 said a fourth person had died, as the World Health Organization said it would consider declaring an international public health emergency over the outbreak. (Photo by MOHD RASFAN / AFP) Selain dengan mengisi health alert card, antisipasi virus corona COVID-19 juga dilakukan lewat thermal scanner (Foto: MOHD RASFAN/AFP)
Jakarta -

Beberapa orang meragukan efektivitas health alert card dalam menangkal penyebaran virus corona (COVID-19). Bisa saja setelah mengisi, seseorang tidak melapor meski jatuh sakit dan mengalami gejala infeksi virus corona dalam periode inkubasi 14 hari.

Lantas apakah health alert card masih dibutuhkan dalam mencegah penyebaran virus corona?

"Kalau saya katakan, harus lebih gencar gitu untuk orang yang masuk ini, karena jumlahnya kan ribuan. Kalau dikasih alert card saja, tergantung dia disiplin atau tidak," kata Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI), Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH, kepada detikcom, Senin (17/2/2020).

Prof Ascobat menyarankan agar health alert card menjadi lebih efektif, maka penumpang pesawat yang berasal dari negara terinfeksi untuk dikumpulkan terlebih dahulu sebelum diizinkan keluar dari bandara.

"Orang dari bandara kan langsung kabur gitu biasanya. Ini barangkali khusus yang dari Singapura ini, semua penumpang di pesawat sebelum masuk ke imigrasi itu dikumpulkan dulu lalu dijelaskan tentang COVID-19 dan berikan secarik kertas atau alert card," ucap Prof Ascobat.

Selain itu untuk meminimalisir penyebaran virus corona di masyarakat, akibat beberapa orang yang tidak melapor bila mengalami gejala-gejala COVID-19. Prof Ascobat juga menegaskan perlunya memperkuat puskesmas di seluruh Indonesia, agar para petugas kesehatan bisa mengetahui siapa saja yang berpotensi terkena COVID-19.

"Supaya puskesmas bisa cepat mencurigai bila ada gejala-gejala COVID-19, dengan dilakukannya pertanyaan tambahan kepada pasien yang lebih terperinci," jelasnya

"Nah sekarang orang batuk, pilek, sesak napas itu tolong ditanya anda tinggal di mana? Anda pernah berkontak dengan orang yang habis dari negara terinfeksi tidak? Kalau iya, maka petugas wajib melapor kepada kepala dinasnya, sehingga orang ini bisa dilacak dia punya tetangga ini siapa? Sudah berapa lama dia terpapar," pungkasnya.



Simak Video "Pemeriksaan Spesimen Covid-19 di Indonesia Capai Rekor Tertinggi"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)