Rabu, 11 Mar 2020 12:38 WIB

Hari Ginjal Sedunia, Kenali Dua Penyebab Utama Penyakit Ginjal Kronis

Ayunda Septiani - detikHealth
The doctor checks the kidneys of a patient on a blue background. Ilustrasi ginjal (Foto: Ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Penyakit Ginjal Kronik (PKG) ditandai dengan kerusakan ginjal atau gangguan fungsi ginjal yang berjalan lebih dari 3 bulan. Data global tahun 2019 menunjukkan 1 dari 3 orang di populasi umum memiliki risiko untuk mengalami PGK.

Pada saat ini diperkirakan 10 persen dari penduduk dunia terkena PGK, akan tetapi 9 dari 10 orang tidak menyadari. Ini disebabkan karena gangguan fungsi sudah sangat menurun. Penyakit ginjal kronik merupakan penyakit yang bersifat progresif, bila tidak ditatalaksanakan secara optimal akan berujung pada penyakit ginjal tahap akhir (gagal ginjal).

Pakar kesehatan dari PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI), dr Aida Lydia, PhD, SpPD-KGH, mengatakan ada dua penyabab utama terjadinya gagal ginjal pada seseorang salah satunya adalah hipertensi dengan angka 36 persen.

"Penyebab utama terjadinya gagal ginjal di Indonesia adalah hipertensi (36 persen) dan diabetes (28 persen). PGK dan gagal ginjal bisa dicegah, dan progresivitas penyakitnya menuju gagal ginjal dapat di perlambat," ujar dr Aida.

Lanjutnya, jika sudah terjadi gagal ginjal, pasien bisa lakukan beberapa terapi untuk proses penembuhkan. Salah satunya bisa melakukan terapi hemodialisis atau biasa disebut dengan cuci darah.

"Jika terjadi gagal ginjal, maka diperlukan terapi pengganti ginjal dengan 3 modalitas pilihan terapi yaitu hemodialisis (cuci darah), perintonel dialisis (CAPD) dan transplatani ginjal" tutupnya.



Simak Video "Mengenal 2 Penyebab Penyakit Ginjal Kronis di Hari Ginjal Sedunia"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)