Rabu, 18 Mar 2020 04:33 WIB

Kasus-kasus Tak Terdeteksi Picu Tingginya Penularan Virus Corona

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Pemeriksaan suhu tubuh giat dilakukan di sejumlah area publik di Jakarta. Para penumpang di Stasiun MRT Lebak Bulus juga turut diperiksa suhu tubuhnya. Diyakini ada banyak kasus virus corona COVID-19 yang tak terdeteksi (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Kasus-kasus virus corona COVID-19 yang tak terdeteksi karena minim gejala diyakini memicu tingginya tingkat penularan. Diperkirakan dua pertiga kasus di China pada masa-masa awal wabah terjadi, bersumber pada 'stealth transmission'.

"Ledakan kasus COVID-19 di China sebagian besar dipicu orang-orang dengan gejala ringan, terbatas, atau tanpa gejala, yang tidak terdeteksi," kata Jeffrey Shaman dari Columbia University yang melakukan penelitian tersebut, dikutip dari Livescience.

"Berbagai kasus 'penularan senyap' tersebut akan berlanjut sebagai tantangan utama dalam membatasi wabah," jelasnya.

Analisis data dari 375 kota di China memperkirakan 86 persen kasus COVID-19 di negara tersebut tidak terdeteksi. Dengan kata lain, tiap ada 1 kasus positif ada 6 kasus lain yang tidak terdeteksi yang bertanggung jawab pada makin bertambahnya jumlah kasus positif.

Temuan ini berdampak pada persebaran di seluruh dunia. Diperkirakan jumlah kasus yang sesungguhnya mencapai 5-10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan yang dilaporkan, yang artinya bisa mencapai 1,5 juta.

"Kita tahu ini hanya puncak gunung es," tegasnya.



Simak Video "WHO Sebut Pandemi Corona Tahun Kedua Lebih Buruk"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)