Rabu, 18 Mar 2020 17:25 WIB

Kasus Corona di RI Tembus 227, Butuh 1 Juta Tes untuk Tekan Kematian

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
WHO menyatakan virus corona COVID-19 sebagai pandemi. Pasalnya virus corona telah menyebar ke ratusan negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Kasus virus corona di Indonesia meningkat! (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Saat ini angka penularan virus corona di Indonesia mencapai 227 kasus dengan penambahan 55 pasien. Jika tidak ditekan penyebarannya, maka diprediksi akan ada kelonjakan dan angka kematian akibat virus corona tidak terhindarkan.

Banyak ahli yang sudah menyarankan pemerintah untuk melakukan skrining masif virus corona, terlebih bagi mereka dengan kriteria ODP atau Orang dalam Pemantauan, seperti yang telah dilakukan oleh Korea Selatan. Meski pemerintah menyebut ada 10 ribu kit alat pemeriksaan virus corona, jumlah tersebut masih jauh dari ideal.

"Negara yang dianggap paling sukses skrining adalah Korea Selatan. Jadi kalau ingin melihat standar yang terbukti bisa dilakukan, kita mengacu Korsel. Korea Selatan sudah melakukan tes sekitar 4000-an tes per satu juta penduduk. Kalau dikalikan dengan penduduk Indonesia, jadi sekitar 1 juta tes yang dibutuhkan," kata Nurul Nadia, konsultan kesehatan masyarakat dari Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), kepada detikcom, Rabu (17/3/2020).

Karena saat ini tahap penularan virus corona di Indonesia disebut sudah community transmission, kriteria yang harus dites adalah mereka yang bergejala batuk dan demam walau sangat ringan, tanpa riwayat kontak, dan orang tidak bergejala tapi ada riwayat kontak dengan pasien positif.

"Kalau memang masih terbatas tesnya, mereka yang ada riwayat kontak tapi belum bergejala bisa tidak lagsung dites tapi isolasi diri supaya tidak berisiko menularkan orang lain selama 14 hari dengan asumsi setelah 2 minggu risiko terinfeksi sudah sembuh," sambungnya.

Idealnya, menurut Nadia, tes masif harus bisa diakses oleh yang memerlukan dan sebaiknya tidak menumpuk. Saat ini hal yang ingin dihindari adalah terjadinya antrian yang panjang untuk tes virus corona.

"Bisa dibayangkan jika ada sekumpulan orang yang merasa dirinya perlu tes corona lalu mereka semua mengantre untuk tes. Harus ada mekanisme supaya orang yang dites kontaknya minimal dengan orang lain. Makanya di Korsel modelnya drive thru," paparnya.

Selain itu, Nadia juga mengimbau agar skrining masif dibarengi dengan self isolation atau isolasi mandiri. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan dari satu orang ke orang lain yang lebih rentan di tempat umum.



Simak Video "Alasan Orang Masih Menolak Tes Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)