Rabu, 18 Mar 2020 21:42 WIB

Amankah Klorokuin dan Kina Dikonsumsi Pasien Virus Corona?

Yudha Maulana - detikHealth
ilustrasi obat Ilustrasi obat (Foto: iStock)
Bandung -

Guru Besar Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Padjadjaran (Unpad) Keri Lestari mengatakan, penggunaan klorokuin fosfat relatif lebih aman untuk mengobati pasien yang terinfeksi Virus Corona atau Covid-19 di tengah pandemik ini.

Hal itu dikatakan Keri berdasarkan riset yang dipublikasikan periset Qingdao University China dan Mrs Wang dari Wuhan Institute of Virology, pada uji klinik multisenter di 10 rumah sakit di China yang melibatkan 100 pasien Corona.

Obat tersebut diketahui keamanan bagi penggunaannya dapat diterima, sehingga direkomendasikan untuk menjadi obat pilihan dalam panduan terapi penanganan Covid-19 yang dikeluarkan pemerintah China.

"Kloroquin fosfat atau obat lama untuk malaria, telah menunjukkan aktivitas yang nyata dengan tingkat keamanan yang dapat diterima dalam mengobati pneumonia terkait COVID-19 dalam uji klinis multisenter yang dilakukan di Tiongkok," kata Keri saat ditemui detikcom di Graha Sanusi Unpad, Kota Bandung, Rabu (18/3/2020).

Klorokuin, ujar Keri, telah digunakan selama 70 tahun untuk penanganan malaria. China pun melakukan pemindaian ribuan obat yang tepat untuk mengatasi virus RNA, hingga muncul dua obat remdesivir dan klorokuin sebagai re-purposing drug bagi penanganan Covid-19.

"Tapi rendesivir untuk ebola belum approve oleh FDA karena efektivitasnya masih 60 persen. sedangkan klorokuin fosfat ini sudah lama dan beredar di dunia , sudah 70 tahun," katanya.

Kabar baiknya, ujar Keri, klorokuin ini memiliki kesamaan struktur kinolin yang berada dalam kinin atau obat kina. Untuk dosisnya, saat ini para peneliti multi disiplin yang melibatkan dokter dan apoteker tengah mengkaji perhitungannya.

"Nah setelah ditelusuri juga klorokuin fosfat dengan kinin sulfat ini punya efek yang sama untuk anti malaria dengan mekanisme kerja yang sama, kalau kita lihat sejarah tahun 1940 tahun, pernah terjadi klorokuin resisten malaria, kemudian diganti kinin dan hasilnya baik," kata Keri.

Ia mengatakan, penggunaan repurposing drug dengan profil obat yang sudah diketahui hasil dan efek penggunannya selama puluhan tahun, lebih masuk akal untuk menangani wabah Covid-19, daripada menunggu obat dengan senyawa baru yang penyempurnaannya bisa memakan waktu bertahun-tahun.

"Logis kalau kita berpikir kalau kina potensial untuk menjadi pengganti klorokuin, wajar juga bila Gubernur Jabar Ridwan Kamil peduli karena pabrik Kina dan perkebunan Kina ada di Jabar dan mereka masih memproduksi itu," imbuh Keri.

Jika ini berhasil, ujar Keri, tentunya geliat industri obat di Indonesia akan bergerak kembali. "Ribuan petani dan orang yang bergerak di bidang ini bisa hidup, devisa juga tidak akan lari karena kita menggunakan produk dalam negeri," katanya.



Simak Video "Tren 'Coronacuts', Potong Rambut Sendiri Selama Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(yum/up)