Selasa, 24 Mar 2020 06:35 WIB

Catat, Ini Tandanya Virus Corona Mulai Pengaruhi Kesehatan Jiwa

Anjar Mahardhika - detikHealth
BEIJING, CHINA - JANUARY 30: A sign instructs shoppers to wear protective masks at a mall on January 30, 2020 in Beijing, China. The number of cases of a deadly new coronavirus rose to over 7000 in mainland China Thursday as the country continued to lock down the city of Wuhan in an effort to contain the spread of the pneumonia-like disease which medicals experts have confirmed can be passed from human to human. In an unprecedented move, Chinese authorities put travel restrictions on the city which is the epicentre of the virus and neighbouring municipalities affecting tens of millions of people. The number of those who have died from the virus in China climbed to over 170 on Thursday, mostly in Hubei province, and cases have been reported in other countries including the United States, Canada, Australia, Japan, South Korea, and France. The World Health Organization has warned all governments to be on alert, and its emergency committee is to meet later on Thursday to decide whether to declare a global health emergency. (Photo by Kevin Frayer/Getty Images) Ilustrasi virus corona COVID-19 (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Persebaran virus corona yang semakin meningkat membuat virus ini menjadi perhatian utama masyarakat. Virus corona COVID-19 pun selalu menjadi pemberitaan utama di beragam media.

Lalu pernahkah kamu mendadak merasa sedikit demam, tenggorokan gatal, atau sesak napas ketika terlalu banyak membaca informasi mengenai corona?

Menurut dr Andri SpKJ, FACLP, psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, hal ini disebut dengan reaksi psikosomatik. Artinya, wajar terjadi karena rasa cemas timbul setelah membaca terlalu banyak berita negatif tentang virus corona, seperti melihat jumlah kasus kematian yang dilaporkan semakin meningkat.

"Jadi ketidakseimbangan berita ini membuat problem untuk otak kita. Sayangnya otak kita ini lebih responsif sama (hal) negatif. Karena otak kita ini hampir lebih dari 80 persennya lebih mudah menerima hal yang negatif daripada hal positif," ujar dr Andri saat dihubungi detikcom pada Senin (23/3/2020).

Ia mengatakan, kecemasan ini dapat membuat tubuh kita memicu respons yang dapat memunculkan gejala-gejala virus corona COVID-19 saat sedang membaca terlalu banyak berita mengenai virus ini.

"Jadi ketika cemas itu datang, gejala-gejala virus corona COVID-19 itu bisa tiba-tiba muncul karena diaktifkan oleh sistem saraf otonom kita. Jadi, seolah-olah kita responnya muncul seperti gejala batuk dan kebanyakan tuh sesak napas karena cemas, gatal-gatal rasanya kaya seret lehernya atau sesak," ujarnya.

Untuk mengurangi gejala psikosomatik, dr Andri menyarankan agar mulai membatasi informasi terkait virus corona COVID-19. Selain itu, mulailah untuk melakukan relaksasi 10 menit sehari untuk mengurangi gejala psikosomatik ini.

"Pertama kurangi asupan berita, relaksasi yang benar karena relaksasi penting sekali. Relaksasi adalah cara kita mengelola pikiran dan perasaan kita. Minimal 10 menit relaksasi setiap hati," pungkasnya.



Simak Video "Tips Aman Berkegiatan Sehari-hari Agar Bebas Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)