Jumat, 27 Mar 2020 10:49 WIB

Tegal 'Lockdown', Pakar Sebut Bisa Cegah Persebaran Corona 70 Persen

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
RSUD Kardinah Tegal RSUD Kardinah Tegal (Imam Suripto/detikcom)
Jakarta -

Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, memutuskan menerapkan local lockdown atau menutup total akses keluar-masuk di daerah tersebut. Hal ini dilakukan untuk menahan laju penyebaran virus corona. Penerapan lockdown di negara lain juga ditujukan untuk memperlampat dan mengurangi penyebaran virus corona COVID-19 yang semakin mengkhawatirkan dari hari ke hari.

"Lockdown itu merupakan bagian dari physical distancing tapi memang yang lebih agresif, tidak hanya berupa imbauan. Sebenarnya tujuan dari lockdown itu sama seperti physical distancing yaitu mengurangi kontak dari orang ke orang supaya penyebaran virusnya melambat sampai 50-70 persen," jelas Nurul Nadia, konsultan kesehatan masyarakat dari Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), kepada detikcom, Jumat (27/3/2020).

Selain di Kota Tegal, beberapa wilayah di Indonesia seperti Kalimantan Timur juga telah menerapkan local lockdown. Menyusul, Kepolisian Surabaya juga merencanakan langkah serupa.

"Dengan lockdown sebenarnya enforcement akan lebih kuat karena bentuknya orang akan berubah karena kebijakan dari pemerintah," sambungnya.

Saat ini, kebijakan yang diberlakukan di Indonesia adalah physical distancing atau menjaga jarak antar orang ke orang. Namun pelaksanannya dianggap lemah karena tidak ada sanksi jelas yang diberlakukan jika melanggar.

Singapura saat ini juga menerapkan aturan social dan physical distancing untuk warganya dan belum melakukan lockdown. Meski demikian kebijakan tersebut dibarengi dengan insentif atau penerapan denda bagi mereka berkumpul lebih dari 10 orang atau denda untuk tempat-tempat umum yang masih buka.

"Itu kan perilaku orang akan jauh lebih terpengaruh karena dibuat lingkungannya mau nggak mau nggak berkumpul," ucapnya.

Penerapan lockdown juga sebelumnya sudah dilakukan selama epidemi flu Spanyol di tahun 1918. Kala itu diperkirakan angka kematian mencapai 50 juta orang di seluruh dunia. Terdapat perbandingan antara Philadelphia yang tidak menerapkan lockdown dan Saint Louis yang memberlakukan.

"Kota St Louis yang melakukan intervensi social distancing berupa lockdown yang agresif dan dini, jadi dua hari setelah kasus pertama ditemukan, angka kematiannya jauh lebih rendah dari Philadelpia yang memberlakukan dua minggu setelahnya," pungkas Nadia.



Simak Video "Lockdown Berakhir, China Kini Hadapi Gelombang Kedua Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)