Jumat, 27 Mar 2020 18:30 WIB

5 Alasan Persebaran Corona di Setiap Negara Tak Selalu Bisa Dibandingkan

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Jumlah total kasus virus Corona atau Covid-19 di Korsel telah mencapai 7.513 kasus. Korsel pun terus berperang melawan Corona karena jumlah pasien terus bertambah. 5 alasan persebaran virus corona di setiap negara tak selalu dibandingkan. (Foto: Getty Images/Chung Sung-Jun)
Jakarta -

Selama pandemi virus corona COVID-19 berlangsung, setiap negara memiliki jumlah kasus dan tingkat kematian yang berbeda-beda. Hal ini membuat sebagian orang berpikir dan saling membandingkan tingkat keparahan di berbagai negara.

Umumnya mereka melihat data persebaran virus corona di dunia melalui peta online yang beredar di internet. Namun membandingkan dengan cara memperhatikan data-data tersebut juga bisa menjadi menyesatkan.

Berikut ini adalah 5 alasan mengapa membandingkan dampak virus corona di setiap negara bisa menyesatkan, seperti dikutip dari CNN.

1. Jumlah kasus sedikit bukan berarti tingkat keparahan rendah

Para ahli telah menjelaskan bahwa setiap negara memiliki standar pelaporan, pengujian, dan cara pelacakan kasus yang berbeda. Maka jangan heran bila setiap negara memiliki jumlah lonjakan kasus yang juga berbeda.

2. Perbedaan kriteria pengujian di setiap negara

Seorang ahli biostatistik dan juga profesor di Universitas Cambridge, Inggris, Sheila Bird mengatakan kriteria pengujian pasien yang terduga virus corona di setiap negara berbeda-beda. Misalnya tentang siapa yang harus diuji, di mana dan kapan dimulainya pengujian terhadap pasien.

3. Keterbatasan alat pengujian

Sebagai perbandingan, Bird mengatakan Inggris tak memiliki alat pengujian yang cukup untuk menguji semua warganya yang memiliki gejala virus corona. Sedangkan di Jerman, siapa pun yang memiliki gejala flu dan pernah memiliki riwayat kontak dengan salah satu pasien akan langsung diberikan tes corona.

Tak hanya itu, bahkan di Korea Selatan diberikan fasilitas tes corona gratis bagi warganya yang memiliki gejala penyakit ini.

4. Jumlah pengujian yang berbeda

Kurangnya pengujian terhadap orang yang memiliki gejala virus corona juga bisa membuat situasi di negara tersebut menjadi buruk. Misalnya tingkat kematian di Inggris terlihat cukup tinggi, tetapi belum tentu demikian karena di sana hanya orang yang bergejala beratlah yang akan dilakukan tes.

Sementara itu, orang-orang yang bergejala ringan dan berpotensi positif virus corona hanya diimbau untuk tetap di rumah, sehingga mereka tidak akan terdata sebagai kasus baru COVID-19.

5. Lebih baik fokus pada jumlah penyebaran di negara sendiri

Para ilmuwan menyarankan untuk masyarakat dan pemerintah di berbagai negara untuk lebih fokus kepada kurva atau grafik penyebaran virus corona dalam setiap harinya di negaranya sendiri.

"Jika setiap negara memiliki standar yang berbeda dan ketentuan yang berbeda, setidaknya mereka menghasilkan kurva yang konsisten setiap harinya," kata Lisa Gitelman, seorang profesor dari Universitas New York.

Lisa juga memberikan contoh, misalnya jika Italia melakukan jumlah tes yang sama dan konsisten setiap harinya, namun dalam kurva tersebut mulai mendatar atau bahkan menurun itu adalah kabar baik.

Selain itu, jika Inggris melakukan pengujian yang lebih banyak dari sebelumnya dan mengakibatkan lonjakan besar warganya yang dinyatakan positif virus corona, bukan berarti penyebaran di negara itu juga menjadi lebih cepat.

Demikian juga, jika suatu negara kehabisan alat uji tes corona dan tiba-tiba di negara itu mengalami pelaporan penurunan kasus baru yang juga bisa menyesatkan.



Simak Video "Pemeriksaan Spesimen Covid-19 di Indonesia Capai Rekor Tertinggi"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)