Selasa, 07 Apr 2020 13:05 WIB

Sejumlah Tenaga Medis di Pakistan Ditahan Setelah Protes Kekurangan APD

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Police arrest doctors demanding facilities and prevention kits to attend coronavirus patients in Quetta, Pakistan, Monday, April 6, 2020. The government imposed a nationwide lockdown to try to contain the outbreak of the virus. (AP Photo/Arshad Butt) Tenaga medis ditahan setelah demo kelangkaan APD di Pakistan. (Foto: AP/Arshad Butt)
Jakarta -

Polisi di Pakistan menangkap sejumlah dokter dan staf medis yang melakukan unjuk rasa atas kurangnya alat pelindung diri (APD) saat menangani pasien terinfeksi virus corona COVID-19.

Demonstrasi terjadi di kota Quetta, provinsi Balochistan, Pakistan, pada Senin (6/4/2020). Pejabat senior polisi Razzaq Cheema mengkonfirmasi penangkapan itu kepada CNN.

Sebagai tanggapan, Asosiasi Dokter Muda (YDA) telah mengumumkan boikot langsung dari semua layanan medis di Balochistan. Protes itu terjadi sehari setelah 13 dokter di Quetta terinfeksi virus corona.

Seorang juru bicara pemerintah provinsi mengatakan kepada Reuters, bahwa rumah sakit di Quetta yang menangani pasien virus corona telah disediakan alat pelindung dan petugas medis yang melakukan unjuk rasa bukan mereka yang menangani pasien.

"Para dokter yang memprotes tidak merawat pasien virus corona, kami tidak memahami alasan mereka memprotes," kata juru bicara pemerintah Balochistan, Liquat Shahwani.

Sementara itu, dokter di ibukota Pakistan, Islamabad, bulan lalu juga akan mengancam boikot jika pemerintah tidak menyediakan alat pelindung diri yang lengkap. Otoritas manajemen bencana Pakistan disebut telah mengimpor APD dalam jumlah banyak.

Pakistan telah melaporkan total 3.277 kasus virus corona, termasuk 50 kematian. Setidaknya 191 dari kasus ini berada di provinsi Balochistan.



Simak Video "'Defender Full Mask' APD Alternatif Ciptaan Peneliti Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)