Selasa, 14 Apr 2020 12:44 WIB

Tio Pakusadewo Ditangkap, 5 Faktor Ini Bisa Bikin Pecandu Narkoba Kambuh

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Tio Pakusadewo Aktor Tio Pakusadewo kembali terjerat narkoba. (Foto: Facebook Tio Pakusadewo)
Jakarta -

Salah satu artis di Indonesia, Tio Pakusadewo kembali diamankan pihak kepolisian karena dugaan penyalahgunaan narkoba. Terkait hal ini, Direktur Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Herry Heryawan pun membenarkan adanya penangkapan tersebut.

"Iya," ujar Kombes Herry Heryawan saat dihubungi detikcom, Selasa (14/4/2020).

Sebelumnya, Tio Pakusadewo juga pernah ditangkap dengan kasus yang sama pada 2018 lalu karena sabu. Hal ini membuktikan bahwa pengguna narkoba juga masih rentan untuk kambuh lagi.

Terkait hal ini, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi mantan pecandu kembali mengonsumsi obat-obatan terlarang itu. Ketua Umum Pengurus Pusat Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, dr Diah Setia Utami, SpKJ, mengatakan banyak faktor penyebab para mantan pecandu bisa kambuh lagi.

1. Jenis zat

Perbedaan zat yang digunakan pecandu narkoba ternyata bisa meningkatkan risiko kambuh lagi. Ada dua jenis zat yang paling sering disalahgunakan oleh pecandu, yaitu narkoba jenis opioid dan ATS (amphetamin dan stimulan).

"Opioid itu heroin atau morfin. Sementara ATS yang paling sering digunakan adalah ganja atau sabu," tutur dr Diah yang juga pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) pada detikcom, beberapa waktu lalu.

Tingkat ketergantungan heroin sangat kuat, sehingga saat pengguna mengalami putus obat gejalanya sangat hebat. Orang tersebut akan mengeluh tubuhnya sakit.

Sementara golongan ATS seperti ganja, tingkat ketergantungannya tidak terlalu besar. dr Diah mengatakan, orang tersebut mungkin akan mengalami ketakutan, paranoid, dan kecemasan yang tinggi.

"Karena ATS ini pengaruhnya langsung ke neurotransmitter di otak. Kalau hanya cemas atau gelisah bisa di terapi dengan mengalihkan perhatiannya ke hal-hal positif. Tapi kalau sudah paranoid, sudah sering halusinasi ini yang harus dirawat inap dan mendapatkan pengobatan dari dokter," ungkapnya.

2. Komplikasi medis

Mantan pecandu yang sebelumnya memang memiliki gangguan kesehatan, terutama gangguan kesehatan jiwa sangat rentan kambuh. Gangguan jiwa ini bisa disebabkan kerusakan otak karena faktor genetik dan bawaan yang sudah diidap orang tersebut sebelum menggunakan narkoba.

"Misalnya sebelum pakai narkoba pasien sudah dari awalnya sangat depresi, atau ternyata pasien mengidap bipolar. Ketika fase manik ingatnya narkoba, ketika depresi apalagi yang diingat narkoba. Tentunya kemungkinan untuk kambuh lebih besar," tuturnya.

3. Tingkat penggunaan

Pengguna narkoba terbagi atas tiga klasifikasi, yaitu experimental user, recreational user dan addict user. Jika si pemakai pernah direhabilitasi tapi tidak tepat pada sasarannya, itu memungkinkan dirinya untuk bisa kambuh lagi.

Agar hal tersebut tidak terjadi, dr Diah mengatakan bahwa rehabilitasi harus dilakukan sesuai dengan tingkat penggunaan narkoba oleh pasien.

"Nah kalau dia sudah addict tapi diberikan pengobatan layaknya experimental user, tentu tidak tepat. Kemungkinan untuk kambuhnya juga lebih besar karena proses rehabilitasinya tidak sesuai," tandasnya.

4. Kurangnya dukungan keluarga

Faktor lain yang bisa membuat mantan pecandu narkoba kambuh lagi, adalah kurangnya dukungan keluarga. Hal ini dianggap paling sering terjadi pada pecandu narkoba.

Menurut dr Diah, ada dua hal yang harus diperhatikan oleh keluarga dari pecandu narkoba. Pertama, keluarga harus tahu apa itu kecanduan atau adiksi. Kedua, pihak keluarga harus bisa menerima mantan pecandu sebagai dirinya sendiri yang apa adanya.

Jika itu terpenuhi, para mantan pecandu tidak akan menerima stigma negatif, diskriminasi, bahkan bisa sembuh total.

"Tapi kalau keluarga nggak dukung, sedikit-sedikit dituduh maling kalau ada barang hilang, sering curiga, ya pecandu akan merasa tidak dihargai dan tak betah di rumah. Ujung-ujungnya kembali bergaul dengan teman-teman lama dan kembali menjadi pengguna narkoba," jelasnya.

5. Faktor sosial lain

Saat mantan pecandu narkoba kembali ke masyarakat, mereka sering menerima stigma negatif dari lingkungannya. Misalnya seperti sulit mendapat pekerjaan yang bisa membuatnya kembali menggunakan narkoba.

"Ya kalau nggak dapat kerja dia nganggur. Ketika menganggur, banyak waktu luang, otak jadinya lebih mudah mengingat sensasi-sensasi menyenangkan yang membuatnya merindukan kembali penggunaan zat-zat narkotika," ujar dr Diah.



Simak Video "BNPB Minta Ulama-Tokoh Publik Bantu Kampanye soal COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)