Senin, 20 Apr 2020 15:05 WIB

Begini Proses Pemasangan Alat Pacu Jantung Seperti Dijalani Titiek Puspa

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Artis senior Titiek Puspa di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di daerah Jakarta Timur, Kamis, (22/10/2015). RPTRA ini bisa dijadikan tempat berkumpul bagi warga setempat. Alfathir Yulianda/detikcom. Begini proses pemasangan alat pacu jantung seperti dijalani Titiek Puspa. (Foto: Alfathir Yulianda)
Jakarta -

Dalam pemasangan alat pacu jantung atau pacemaker tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada serangkaian prosedur yang harus dilalui untuk menentukan apakah memang harus menggunakan alat tersebut atau tidak.

dr Vito A Damay, SpJP(K), Mkes, FIHA, FICA, FAsCC, dokter jantung dari dari Siloam Hospital Lippo Village mengatakan untuk menentukan tindakan pemasangan alat, dokter tidak bisa melihat hanya dari satu parameter saja. Ada berbagai penilaian yang harus dilakukan, salah satunya elektrokardiogram atau EKG yaitu tes sederhana untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung.

"Kalau dia sakit sampai pingsan dan ada gejala, berarti ada indikasi untuk melakukan pemasangan pacu jantung. Jadi, bukan berdasarkan detak jantung saja, dilihat elektrokardiogram (EKG), adanya keluhan, berapa frekuensi jantungnya, apa penyebabnya, itu kita cari dulu," jelasnya pada detikcom, Senin (20/4/2020).

Untuk proses pemasangannya, tergantung dari jenis yang dipasang yaitu temporary (sementara) atau permanen. dr Vito mengatakan pemasangan alat pacu jantung sementara biasanya dipasang melalui pembuluh darah yang ada di lipatan paha, jadi harus dilakukan pembedahan minor atau kecil untuk memasukkan alat.

Sementara untuk yang permanen, harus ditempatkan di bawah kulit di area dada pasien.

"Kalau yang permanen, itu semacam baterai alat pacu jantung itu kita tanamkan di dalam atau di bawah kulit di daerah dada. Jadi harus dilakukan pembedahan minor tadi," kata dr Vito.

"Waktu pemasangan alat pacu jantungnya itu sebenarnya cepat, hanya setengah jam karena hanya pembedahan minor saja kan. Paling sehari sudah bisa keluar (rumah sakit). Nanti perawatannya dilanjutkan di rumah," imbuhnya.

Setelah dipasang, alat pacu jantung terutama yang permanen perlu diganti juga. Menurut dr Vito, rata-rata alat tersebut harus diganti setelah 5-10 tahun, tergantung baterai dan jenisnya.



Simak Video "Yayasan Jantung Indonesia Siapkan 1000 Swab Test Gratis"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)