Rabu, 29 Apr 2020 19:06 WIB

Teori Konspirasi Selalu Bikin Penasaran? Memang Begitulah Sifat Otak

Ayunda Septiani - detikHealth
Microsoft founder, Co-Chairman of the Bill & Melinda Gates Foundation, Bill Gates delivers a speech during the conference of Global Fund to Fight HIV, Tuberculosis and Malaria on october 10, 2019, in Lyon, central eastern France. - The Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria opened a drive to raise $14 billion to fight a global epidemics but face an uphill battle in the face of donor fatigue. (Photo by Ludovic MARIN / AFP) Nama Bill Bages kerap disebut dalam teori konspirasi tentang vaksin (Foto: AFP/LUDOVIC MARIN)
Jakarta -

Teori konspirasi bermunculan di tengah pandemi virus Corona. Banyak di antaranya tampak meyakinkan, meski setelah ditelusur sumbernya sulit dipertanggungjawabkan.

Dokter ahli bedah saraf, dr Roslan Yusni Al Imam Hasan, SpBS, dari Mayapada Hospital Tangerang, menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan kemampuan kognitif otak. Kemampuan inilah yang disebutnya membuat orang cenderung tertarik pada teori konspirasi.

"Ya memang begitulah cara kerja otak manusia. Secara evolusioner, kemampuan kognitif otak manusia adalah kemampuan pengenalan dan memetakan pola yang bisa secara efektif memberikan kemungkinan lebih besar untuk survive," ungkap dr Ryu, sapaan akrabnya, saat dihubungi detikcom, Rabu (29/4/2020).

"Di zaman purba, kemampuan otak manusia untuk memperkirakan cuaca, perilaku binatang buruan, kapan buah bisa dimakan, atau ancaman predator sangat penting memperbesar kemungkinan survivabilitas manusia," lanjutnya.

Cara kerja otak manusia, menurut dr Ryu, cenderung lebih mencari cara untuk bertahan dan selamat dari sesuatu yang membahayakan, dibandingkan harus memilih mencari tahu kebenarannya.

"Kalau rumput tinggi yang bergoyang-goyang, mungkin ada macan yg mendekat di baliknya atau ya hanya karena tiupan angin aja. Meyakini ada macan di balik rumput bergoyang, akan membuat orang ngibrit (berlari) menjauh secepatnya. Ini akan menyelamatkan hidup manusia itu, kalau keyakinannya benar," begitu analogi yang ia paparkan.

"Tapi kalau keyakinan ada itu macan ternyata salah, ya manusianya nggak rugi-rugi amat, paling ngos-ngosan saja dikit. Tapi kalau si manusia malah pengen verifikasi keyakinannya karena dia percaya itu hanya angin, matilah dia kalau ternyata itu macan," lanjutnya.

Maka menurutnya, tak heran jika sampai saat ini asumsi yang paling mengancam manusia lebih banyak muncul dibandingkan dengan asumsi lain. Pada akhirnya, ia menyebut segala cara rasional juga akan dicari orang tersebut untuk mendukung asumsi seperti teori konspirasi.

"Ya memang benar bahwa cara mengambil asumsi dan keputusan semacam ini bertolak belakang dengan metode pemikiran rasional (sains) yang membangun asumsi berdasarkan fakta yang ada. Tapi faktanya juga, ratusan ribu tahun manusia selamat tanpa sains. Jadi ya jangan heran kalau lebih banyak manusia yang berteori konspirasi ketimbang orang yang mendahulukan verifikasi. Karena memang begitulah cara kerja otak manusia," pungkasnya.



Simak Video "WHO Sebut 3 Tempat yang Mudah Tularkan Virus Corona "
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)