Senin, 04 Mei 2020 10:46 WIB

Kata Ilmuwan Nanoteknologi Soal Tes Tiup Api untuk Uji Masker Scuba

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Tes tiup untuk menguji masker kain scuba Tes 'tiup api' diyakini bisa untuk menilai kemampuan masker kain dalam menangkal partikel. (Foto: viral)
Jakarta -

Sejak diwajibkannya seluruh masyarakat menggunakan masker kain sebagai langkah pencegahan virus corona, muncul banyak sekali jenis masker nonmedis dan salah satu yang populer adalah masker scuba. Jenis masker penggunaannya terbilang cukup populer di masyarakat karena dianggap nyaman dan harganya pun tergolong murah.

Namun beberapa waktu lalu muncul keraguan soal efektivitas masker scuba dalam menyaring partikulat seperti bakteri dan virus. Banyak yang kemudian beramai-ramai mencoba metode untuk mengujinya yakni dengan memakai masker scuba sambil meniup api yang viral di media sosial.

"Masker yang baik itu adalah masker yang ketika ada api, ditiup, api dinyalakan di depan masker, terus kita tiup, itu apinya kalau tidak padam berarti bagus," kata seorang netizen.

Masker kain scuba yang tengah ngehits karena nyaman dan murah meriah.Masker kain scuba yang tengah ngehits karena nyaman dan murah meriah. Foto: Uyung/detikHealth

Peneliti nanoteknologi dari Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir yang juga tengah melakukan penelitian terkait teknologi untuk masker, mengatakan tes tiup api hanyalah indikator awal pengujian kualitas masker. Pada dasarnya ada beberapa kriteria untuk menguji kinerja masker di antaranya:

  1. Uji filtrasi bakteri
  2. Uji partikulat
  3. Uji aliran udara

"Itu hanya indikator awal saja sebab untuk mengecek filter ada syaratnya seberapa bisa dia menahan bakteri kemudian berapa partikulat yang bisa ditahan," katanya saat dihubungi detikcom dan ditulis Senin (4/5/2020).

Melihat tes yang dilakukan pada bahan masker scuba, pada saat dipakai memang terjadi peregangan karena bahannya yang lentur sehingga pori-pori kain terbuka dan aliran udaranya makin besar.

Pada masker medis atau masker N95, serat dan benangnya akan tersusun rapat sehingga partikulat bakteri dan virus bisa tertahan namun memang pemakainya menjadi tak nyaman.

"Kalau aliran udara besar memang lebih nyaman tapi efektivitas penyaringan bakteri atau virus biasanya lebih turun," sebutnya.

Walaupun serat dan bahannya tak serapat masker medis atau masker N95, masyarakat tetap bisa menggunakan masker kain karena umumnya memiliki daya saring partikel 50 hingga 80 persen.

"Untuk penggunaan sehari-hari di masyarakat yang tidak kontak langsung, cukup membantu untuk mencegah walau kemampuannya kecil," pungkasnya.



Simak Video "Masker Buff dan Scuba Tak Disarankan Dipakai di KRL, Ini Alasannya"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)