Rabu, 06 Mei 2020 12:53 WIB

Peneliti Inggris Sebut Virus Corona Telah Menyebar Sejak September

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ribuan orang terinfeksi virus corona di Wuhan, China. Berbulan-bulan berjibaku lawan COVID-19, Wuhan bangkit dan laporkan tak ada kasus baru virus Corona. Ahli sebut virus Corona menyebar lebih awal dari yang diperkirakan. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Tim peneliti dari University of Cambridge, Inggris, menyebut wabah virus Corona bisa saja terjadi lebih jauh lebih awal dari yang diperkirakan yakni pada pertengahan September di daerah China Selatan, bukan Wuhan. Para peneliti yang menyelidiki asal virus menganalisis sejumlah besar strain dari seluruh dunia dan menghitung bahwa wabah awal terjadi di antara 13 September dan 7 Desember.

"Virus ini mungkin telah bermutasi berbulan-bulan lalu, sumber awalnya bisa berada di kelelawar atau hewan lain atau bahkan manusia selama beberapa bulan tanpa menulari individu lain," kata ahli genetika Universitas Cambridge, Peter Forster, dikutip dari SCMP.

"Kemudian, ia mulai menginfeksi dan menyebar di antara manusia antara 13 September dan 7 Desember, menghasilkan jaringan-jaringan yang kami himpun dalam [jurnal] Prosiding National Academy of Sciences [PNAS]," tambahnya.

Tim menganalisis strain menggunakan jaringan filogenetik, sebuah algoritma matematika yang dapat memetakan pergerakan global organisme melalui mutasi gen virus. Mereka masih berusaha untuk menentukan lokasi pasien pertama dan berharap ada bantuan dari para ilmuwan di China.

Tim Cambridge baru-baru ini menjadi berita utama internasional dengan sebuah makalah tentang sejarah evolusi virus. Dalam penelitiannya, ditemukan bahwa sebagian besar strain yang diambil sampelnya di Amerika Serikat dan Australia secara genetik lebih dekat dengan virus kelelawar daripada strain di pasien Asia Timur, dan jenis strain virus utama Eropa adalah keturunan dari varian virus Asia Timur.

Dalam studi baru mereka, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat, Forster dan rekan-rekannya dari beberapa lembaga termasuk Institute of Forensic Genetics di Munster, Jerman, memperluas basis data untuk memasukkan 1.001 sekuens genom berkualitas tinggi yang dirilis oleh para ilmuwan di seluruh dunia.

Semakin banyak strain yang dianalisis, semakin tepat mereka dapat melacak asal mula penyebaran virus global. Dengan menghitung mutasi, mereka bisa lebih dekat dalam menemukan orang pertama terinfeksi oleh strain yang paling dekat dengan virus kelelawar.



Simak Video "Disebut 10x Lebih Menular, Mutasi Corona D614G Ditemukan di 5 Kota RI"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)