Rabu, 27 Mei 2020 12:45 WIB

Jalani New Normal di Tengah Pandemi Corona, Samakah dengan Herd Immunity?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Pemerintah menyiapkan langkah menerapkan new normal di tengah pandemi Corona. Warga diimbau memakai masker hingga rajin cuci tangan di kehidupan normal baru. Jalani new normal di tengah pandemi Corona, samakah dengan herd immunity? (Foto: dok detikcom)
Jakarta -

Baru-baru ini sejumlah negara melakukan new normal di tengah pandemi Corona saat vaksin Corona belum tersedia. Meski begitu beredar anggapan kalau new normal ini hanya berujung pada strategi herd immunity atau membiarkan suatu kelompok nantinya terinfeksi Corona dan menciptakan kekebalan sendiri. Benarkah begitu?

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc, menjelaskan herd immunity sebenarnya jauh berbeda dengan new normal. Namun jika masyarakat dibiarkan menjalani new normal saat kasus baru Corona masih tinggi baru bisa dikatakan sama saja dengan mengadopsi strategi herd immunity.

"Iya kan kalau new normal itu syaratnya penyakit COVID-19-nya sudah terkontrol, harus nol, sudah minimal terkontrol dan stabil selama 2 minggu," ungkapnya saat dihubungi detikcom Rabu (27/5/2020).

"Kalau nggak dikontrol ya serem dong itu sama saja herd immunity, kalau nggak terkontrol, kalau penerapannya salah," lanjutnya.

Menurut dr Tri, herd immunity sendiri sangat berbahaya jika diterapkan pada penanganan wabah virus Corona COVID-19. Banyak yang akan dikorbankan karena syarat capai herd immunity adalah 80 persen dari populasi terinfeksi Corona.



Simak Video "Aturan Longgar dan Targetkan Herd Immunity COVID-19, Swedia Gagal?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)